RADARSOLO.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Provinsi Jawa Tengah.
Langkah darurat ini ditempuh guna mendukung percepatan pemadaman kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Putri Cempo Solo.
Sekaligus memitigasi dampak bencana kekeringan yang melanda berbagai daerah.
Seluruh rangkaian operasi penanganan bencana berbasis udara ini dipusatkan di Kompleks Landasan Udara (Lanud) Adi Soemarmo, Boyolali.
Kegiatan menggunakan armada pesawat bernomor penerbangan PK-YNA dan dijadwalkan berlangsung selama tujuh hari.
Terhitung sejak 9 hingga 15 September 2026.
Perwakilan Kedeputian Modifikasi Cuaca BMKG Yana Arifin menuturkan, pelaksanaan penyemaian awan ini secara paralel membawa dua misi strategis nasional.
"Kami melaksanakan misi operasi modifikasi cuaca untuk mendukung pemadaman kebakaran TPA Putri Cempo di Solo, sekaligus membantu mitigasi kekeringan di beberapa kabupaten di Jawa Tengah yang sudah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) cukup panjang," ujar Yana di Lanud Adi Soemarmo, Boyolali.
BMKG menggarisbawahi bahwa penyemaian awan untuk area spesifik TPA Putri Cempo memiliki tingkat kesulitan teknis yang cukup tinggi.
Baca Juga: Cungkring, Kuliner Bogor yang Sudah Ada Sejak 1975 dan Punya Cita Rasa Khas
Mengingat cakupan sasaran (target area) tergolong relatif sangat kecil, sehingga membutuhkan presisi penerbangan ekstraketat.
Guna mengoptimalkan hasilnya, tim BMKG menerapkan metode penyemaian pada potensi awan jenis Cumulus atau Cumulus Congestus.
Proses penyemaian dilancarkan pada lintasan pergerakan awan menuju wilayah target pada kisaran ketinggian 7.000 hingga 10.000 kaki.
Yana menekankan bahwa mekanisme modifikasi cuaca pada dasarnya bukan menciptakan hujan dari kondisi langit kering tanpa awan.
Baca Juga: Prediksi Skor Manchester United Vs Sabah FK di Liga Champions, Setan Merah Menang Berapa Gol?
Melainkan mempercepat akselerasi dan pematangan potensi awan aktif yang sudah terbentuk secara alami.
“Kami menyemai awan-awan potensial menggunakan bahan semai NaCl (garam halus) berukuran 30 hingga 40 mikron untuk mempercepat proses pematangan awan," terang Yana.
Melalui formula penyemaian NaCl mikron tersebut, struktur awan diperkirakan mencapai tingkat kejenuhan air lebih cepat, sehingga mampu meluruhkan presipitasi hujan tepat di atas area sasaran dalam kurun waktu 1 hingga 3 jam pascapenyemaian.
Dalam satu kali penerbangan (sortir), pesawat penabur dipersenjatai dengan muatan bahan semai garam halus berkapasitas sekitar 800 kilogram.
BMKG menargetkan frekuensi penerbangan hingga dua kali sortir per hari, yang dievaluasi secara dinamis mengikuti pemantauan pertumbuhan awan di wilayah Jawa Tengah. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com