RADARSOLO.COM - Kebakaran besar yang melanda TPA Putri Cempo Solo menjadi pelajaran berharga bagi Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Boyolali.
Mereka memperketat langkah antisipasi kejadian serupa di TPA Winong, Kecamatan Mojosongo, Boyolali.
“Kita ikut prihatin dengan yang terjadi di TPA Putri Cempo Solo. Kami selaku pengelola TPA juga bisa merasakan dampak atau konsekuensi dari TPA yang terbakar. Kami mohon kesungguhan doa dan dukungan semua pihak agar dijauhkan dari bencana kebakaran,” ujar Kepala DLH Boyolali Suraji, Kamis (10/9/2026).
Baca Juga: Bupati Wonogiri Setyo Sukarno Terima Lencana Dharma Bakti di HUT ke-65 Pramuka
Tindakan pencegahan diawali dengan edukasi langsung serta pemasangan MMT imbauan kepada seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) di TPA Winong.
Mulai dari pemulung, warga sekitar, mitra pengelola, hingga pengemudi armada pengangkut sampah.
Secara teknis, DLH Boyolali mengandalkan sistem controlled landfill atau penimbunan terkendali.
Metode ini dilakukan melalui penaburan tanah urug di blok sampah secara berkala minimal satu kali dalam sepekan.
Langkah pengurugan tanah tersebut berfungsi menutup tumpukan sampah dan membentuk lapisan-lapisan terpisah.
Dengan begitu, apabila terjadi percikan api di lapisan atas, kobaran api tidak akan merembet ke tumpukan sampah di bawahnya.
Pihak DLH juga telah menyiagakan:
- Alat pemadam api ringan (APAR) model dry powder
- Memasang papan peringatan waspada gas metana
- Mendirikan pagar pembatas di titik blok sampah
Kendati demikian, Suraji mengonfirmasi bahwa saat ini belum ada pemasangan sensor suhu maupun sensor gas otomatis di kawasan TPA Winong.
Sebagai sarana penanganan darurat pemadaman, DLH menyiagakan sejumlah armada pendukung di lokasi TPA.
“Tersedia APAR, 3 unit alat berat excavator yang berfungsi mengaduk sampah saat terjadi kebakaran, 3 unit kendaraan tangki air milik DLH dengan 1 unit standby di area TPA, serta jaringan air PDAM dan tandon air,” terang Suraji.
Optimalisasi Pengolahan Sampah dan Program Hompimpah
Untuk meminimalkan potensi panas berlebih akibat tumpukan gas metana, DLH memacu pemilahan sampah organik dan anorganik bersama pemulung serta mitra swasta.
Sampah organik dimanfaatkan untuk budidaya maggot, ternak mentok, serta pembuatan kompos gratis.
Dari hilir ke hulu, Pemkab Boyolali menggalakkan Gerakan Hompimpah (Pilah Olah Sampah dari Rumah) yang didukung oleh keberadaan sekitar 300 bank sampah dan 12 TPS3R.
“Yang dikirim ke TPA hanya sampah residu. Sampah organik selesai di sumbernya dan rosok bisa dijual untuk didaur ulang,” urainya.
Mengenai skenario evakuasi, Suraji optimistis potensi timbulnya kebakaran skala besar di TPA Winong relatif kecil.
Sebab, tata letak tumpukan tidak berada dalam satu hamparan luas, melainkan terbagi dalam blok-blok.
Baca Juga: Cungkring, Kuliner Bogor yang Sudah Ada Sejak 1975 dan Punya Cita Rasa Khas
“Kita berharap aman terkendali alias tidak ada kebakaran atas izin Allah SWT. Posisi tumpukan tidak satu hamparan luas, sehingga kemungkinan kecil terjadi kebakaran besar seperti Putri Cempo,” ungkapnya.
Ke depan, DLH Boyolali memfokuskan empat strategi utama, yaitu:
- Menggiatkan Gerakan Hompimpah
- Merencanakan pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST)
- Mengusahakan teknologi ramah lingkungan refuse-derived fuel (RDF) dan pirolisis
- Menjaring investor pengelola sampah.
“Sudah punya alat RDF namun kapasitas masih kecil. Kami juga mengupayakan adanya investor yang mengelola sampah Boyolali,” pungkas Suraji. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com