Sawah Mengering Akibat Kemarau, Petani di Teras Boyolali Beralih ke Budi Daya Pepaya

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 13:15 WIB
Sunarto, petani Desa Randusari, Kecamatan Teras, Boyolali menggotong galon isi air untuk menyiram tanaman pepaya, Minggu (13/9/2026). (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)
Sunarto, petani Desa Randusari, Kecamatan Teras, Boyolali menggotong galon isi air untuk menyiram tanaman pepaya, Minggu (13/9/2026). (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Dampak kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Boyolali memaksa para petani banting stir menjaga produktivitas lahan.

Langkah alih tanam ke komoditas tahan kering hingga perjuangan mengangkut air secara manual harus ditempuh saban hari.

Pengalaman tersebut dialami oleh Sunarto, petani asal Desa Randusari, Kecamatan Teras.

Setiap sore, ia mengangkut sisa-sisa air dari dasar sungai yang mulai mengering untuk menyiram 300 pohon pepaya miliknya agar tidak layu.

Baca Juga: BMKG Prediksi El Nino Bertahan Hingga Awal 2027, Warga Wonogiri Diimbau Waspada Karhutla dan Krisis Air Bersih

Jika pada musim penghujan, Sunarto menggantungkan komoditas pada tanaman padi.

Kini, di musim kemarau, ia beralih membudidayakan pepaya yang dinilai memiliki daya tahan tinggi serta nilai ekonomis yang menjanjikan.

Meski lebih tahan cuaca panas, bibit pepaya yang ditanamnya sejak sebulan lalu tetap membutuhkan pasokan air secara berkala.

Kendala utama bersumber dari terbatasnya air dari irigasi desa yang hanya didapatkannya sekitar tiga minggu sekali karena diterapkan sistem giliran.

“Masih susah mas (airnya) seperti itu. Belum turun hujan sama sekali soalnya, itu gimana (Solusinya),” ujar Sunarno disela-sela aktivitas menyiram tanaman pepaya miliknya, Minggu (13/9/2026).

Baca Juga: Adu Cepat di Sirkuit Boyolali, 60 Pebalap Cilik Berebut Tiket FIM MiniGP World Series Valencia Spanyol

Meski menguras tenaga ekstra, potensi hasil panen pepaya dipandang jauh lebih menguntungkan dibandingkan membiarkan lahan sawah mangkrak.

“Capek sih, ini setiap hari (menyiram tanaman). Tapi kalau kemarau seperti ini, buahnya lebih banyak, pohonnya lebih awet,” tambah Sunarno.

Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali Suyanta menjelaskan, kemarau panjang tahun ini membawa dampak signifikan bagi kawasan pertanian, khususnya di wilayah Boyolali bagian utara dan timur.

Faktor utamanya didasari oleh karakteristik mayoritas lahan pertanian di kawasan tersebut yang mengandalkan sistem sawah tadah hujan.

"Ketika kemarau tiba, persawahan, sungai, hingga saluran irigasi di wilayah tersebut dipastikan mengering," terang Suyanta.

Baca Juga: Berawal Sengketa Air Sawah, Petani di Masaran Sragen Tewas Ditikam saat Olahraga Pagi

Guna menekan dampak krisis air pertanian, pemerintah daerah menggandeng Kementerian Pertanian telah merampungkan penyaluran bantuan berupa 73 unit sumur dalam yang disebar ke berbagai titik terdampak.

Kendati demikian, Suyanta menggarisbawahi bahwa penambahan sumur bor tersebut belum sepenuhnya mengurai ancaman kekeringan secara menyeluruh.

"Saat ini kami terus mengupayakan solusi jangka panjang agar siklus kemarau panjang tidak selalu melumpuhkan sektor pertanian di Boyolali," pangkas Suyanta. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
teras boyolali lahan sawah kekeringan pepaya