RADARSOLO.COM - Sejumlah lembaga pendidikan di Kabupaten Boyolali memilih untuk mengundurkan diri dari penerimaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Salah satunya Pondok Pesantren (Ponpes) Istiqomah Mliwis di Kecamatan Cepogo, Boyolali.
Menanggapi dinamika tersebut, Satuan Tugas (Satgas) MBG Boyolali menyatakan tidak keberatan dan mempersilakan pihak sekolah mengambil opsi penghentian, selama dipenuhi dokumen administrasi resmi.
Baca Juga: Tragedi Kecelakaan KM Virgo Transport 8: Pamit Cari Kerja tanpa Izin Orang Tua, Kini Masih Misteri
Ketua Satgas MBG Boyolali M. Syawalludin menjelaskan, pihak sekolah maupun yayasan pada dasarnya memiliki hak penuh untuk menerima atau menolak pasokan makanan program MBG.
"Prinsipnya sesuai aturan kan boleh. Artinya yayasan dan sekolah menolak diberikan MBG tidak apa-apa," tegas M. Syawaludin, Senin (14/9/2026).
Syawaludin menerangkan, mekanisme pengunduran diri dapat dilakukan dengan menyusun surat pernyataan tertulis di atas materai yang ditujukan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pengampu wilayah.
"(Yang menolak) bikin saja pernyataan bermaterai, kemudian disampaikan ke SPPG pengampu. Selesai sudah itu," ujarnya.
Dokumen pernyataan tersebut bakal dipakai SPPG sebagai acuan dasar untuk menyampaikan laporan berjenjang ke tingkat atas.
"Sehingga kalau sudah ada surat pernyataan tertulis bermaterai, pasti SPPG pengampu akan melaporkan ke Korcam dan Korwil," imbuhnya.
Berdasarkan laporan dari Koordinator Kecamatan (Korcam) Cepogo, Syawaludin menyebut Ponpes Istiqomah Mliwis sejatinya sudah tidak lagi menerima pasokan paket makanan MBG dalam rentang tiga bulan terakhir.
"Cuma informasi dari Korcam Cepogo, sudah tiga bulan terakhir ini memang tidak menerima," ungkapnya.
Kekhawatiran Insiden Keluhan Kesehatan Siswa
Diketahui, keputusan penghentian program MBG oleh Yayasan Istiqomah Al Jamzury—yang menaungi Ponpes berkapasitas 190 santri serta Madrasah Ibtidaiyah (MI) dengan 160 siswa—dipicu rasa khawatir maraknya insiden keracunan para murid usai menyantap hidangan MBG di berbagai wilayah, termasuk Boyolali.
Ketua Yayasan Istiqomah Al Jamzury Muhammad Hanafi menjelaskan, pihaknya telah menggelar sosialisasi perihal rencana penolakan ini kepada jajaran wali santri dan wali murid.
"Keprihatinan kami timbul karena banyaknya kasus keracunan makanan MBG. Akhirnya kami mengambil sikap untuk merespons kejadian tersebut," kata Muhammad Hanafi, Minggu (13/9/2026).
Meski demikian, penghentian total pasokan makanan tidak serta-merta diberlakukan pada Senin (14/9/2026).
Pihak yayasan memberi tenggat waktu penyesuaian selama satu pekan bagi orang tua yang tetap menginginkan anak-anak mereka menerima makanan MBG. (fid)
Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com