RADARSOLO.COM - Dampak musim kemarau di Kabupaten Boyolali kian meluas.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali mencatat penambahan wilayah terdampak krisis air bersih dari sebelumnya 11 kecamatan menjadi 12 kecamatan per September 2026.
Kecamatan Karanggede menjadi wilayah paling gres yang masuk dalam daftar penanganan distribusi air bersih, tepatnya menyasar warga di Desa Sendang.
Kawasan Karanggede sendiri sebelumnya tercatat aman dari ancaman kekeringan selama beberapa tahun terakhir.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Boyolali, Ari Wahyu Prabowo, membenarkan adanya perluasan pemetaan wilayah terdampak krisis air tersebut.
“Ada tambahan wilayah Karanggede, Desa Sendang. Baru tahun ini kembali terdampak, setelah beberapa tahun sebelumnya tidak pernah ada laporan (kekeringan),” ujar Ari, Senin (14/9/2026).
Menanggapi meluasnya krisis air bersih, BPBD Boyolali memfokuskan penanganan darurat guna memfasilitasi kebutuhan dasar masyarakat melalui penyaluran (dropping) armada tangki air bersih secara berkelanjutan.
“Untuk saat ini, upaya penanganan terfokus pada pemenuhan kebutuhan air bersih untuk masyarakat melalui dropping air,” jelasnya.
Berdasarkan pendataan sebaran distribusi bantuan per Sabtu (12/9/2026), BPBD Boyolali telah menggelontorkan total pasokan mencapai lebih dari 4,2 juta liter air bersih. Pasokan tersebut disebar untuk menjangkau 125 dukuh di 39 desa/kelurahan di 12 kecamatan.
Baca Juga: Ganti Rugi Gus Nur Rp 4,2 Miliar, Legal Standing Dipersoalkan
Secara kumulatif, bencana kekeringan di Boyolali saat ini berdampak langsung pada 9.590 kepala keluarga (KK) atau setara 28.898 jiwa. Khusus area Karanggede, BPBD mengalokasikan bantuan tahap awal berupa satu tangki berkapasitas 8 ribu liter air untuk Desa Sendang.
Kawasan Boyolali bagian utara menjadi wilayah yang mencatatkan kasus kekeringan terbanyak sepanjang musim kemarau tahun ini.
Data BPBD merincikan sebaran 12 kecamatan terdampak meliputi Wonosegoro, Wonosamudro, Kemusu, Tamansari, Musuk, Klego, Juwangi, Ampel, Gladagsari, Cepogo, Karanggede, serta Selo.
Untuk tingkat desa, frekuensi pengiriman air tertinggi tercatat berada di Desa Garangan, Bojong, dan Repaking (Kecamatan Wonosegoro), serta Desa Guwo, Sambeng, dan Ngaren (Kecamatan Juwangi dan Wonosegoro).
“Untuk desa-desa yang paling banyak seperti Garangan 68 tangki, Bojong 63 tangki, Guwo 71 tangki. Itu memang wilayah langganan kekeringan setiap musim kemarau,” pangkas Ari. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com