RADARSOLO.COM - Dinas Perhubungan (Dishub) Boyolali merilis hasil kajian keselamatan lalu lintas periode Agustus 2026.
Berdasarkan data rekapitulasi Jasa Raharja, jumlah insiden kecelakaan di wilayah Boyolali tercatat sebanyak 292 korban, terdiri dari 281 korban luka-luka dan 11 korban meninggal dunia.
Kepala Dishub Boyolali Insan Adi Asmono memaparkan bahwa capaian tersebut menunjukkan penurunan signifikan jika dibandingkan dengan periode bulan sebelumnya.
Baca Juga: Cegah Tumpang Tindih Bantuan, BPBD Boyolali Gelar Rakor Distribusi Air Bersih Tepat Sasaran
Pada Juli 2026, tercatat 309 kasus kecelakaan dengan rincian 290 korban luka-luka serta 19 korban meninggal dunia.
"Jumlah kecelakaan turun sekitar 5,5 persen, korban luka-luka turun 3,1 persen, dan korban meninggal dunia turun hingga 42,1 persen. Fatalitas pada Agustus 2026 ini merupakan yang terendah sepanjang tahun 2026, setara dengan capaian Januari 2026," kata Insan, Kamis (17/9/2026).
Pemaparan evaluasi ini disampaikan bertepatan dengan momentum peringatan Hari Perhubungan Nasional (Harhubnas) 2026 yang mengusung tema "Menghubungkan Indonesia Untuk Masa Depan Lebih Maju".
Kendati mengalami penurunan bulanan, Insan mengingatkan bahwa secara akumulatif sejak Januari hingga Agustus 2026, total kecelakaan di Boyolali telah menembus 2.129 kejadian dengan 2.035 korban luka-luka dan 94 korban meninggal dunia.
Angka kejadian tertinggi terjadi pada Mei 2026 dengan 355 kasus, sedangkan tingkat fatalitas tertinggi tercatat pada Juli 2026 yakni 19 korban jiwa.
“Angka fatalitas 94 ini sudah mencapai 84 persen dari total tahun 2025 yang sebanyak 112 korban. Empat bulan ke depan perlu kita sikapi bersama dengan kewaspadaan dan upaya yang lebih intensif," terangnya.
Pemetaan Titik Rawan dan Langkah Intervensi
Berdasarkan analisis pemetaan fungsi jalan, kasus kecelakaan sepanjang Agustus 2026 paling banyak terjadi di jalan kabupaten yaitu 205 kejadian (70,7 persen), disusul jalan desa 55 kejadian, jalan nasional 18 kejadian, dan jalan provinsi 12 kejadian. Dari kriteria fungsi, Jalan Lokal Primer (JLP) mencatatkan kasus terbanyak dengan 123 kejadian (42,4 persen).
“Jalan Nasional memiliki rasio kejadian per kilometer tertinggi meskipun jumlah ruasnya terbatas, sehingga menjadi perhatian utama,” beber Insan.
Adapun titik rawan kecelakaan (blackspot) teridentifikasi di Simpang Tiga Wika, Dukuh Pomah, serta Tol KM 481+400 A, Dukuh Kebakan, yang ketiganya berada di Kecamatan Mojosongo dengan masing-masing 4 insiden.
Dilihat dari profil korban, kelompok usia produktif 15–24 tahun mendominasi sebanyak 112 korban (38,4 persen) dengan jenis kelamin laki-laki mencapai 57,5 persen.
Baca Juga: Sempat Ancam Permukiman Warga, Kebakaran Lahan di Batuwarno dan Sidoharjo Berhasil Dilokalisasi
Tipe kecelakaan terbanyak adalah tabrakan depan-belakang dengan 98 kasus, diikuti tabrakan depan-depan 62 kasus, dan tabrakan depan-samping 57 kasus.
Guna menekan angka kecelakaan, Dishub Boyolali mengintensifkan serangkaian intervensi teknis, seperti penataan marka, pemasangan pita penggaduh, zebra cross, garis stop, pembenahan APILL di persimpangan rawan, hingga edukasi keselamatan ke sekolah-sekolah.
“Di momen HARHUBNAS 2026 ini, kami mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Boyolali untuk bersama-sama menjaga keselamatan lalu lintas dengan senantiasa mematuhi rambu dan marka jalan, menggunakan helm bagi pengendara sepeda motor, menjaga jarak aman, tidak menerobos lampu merah, mewaspadai titik rawan kecelakaan yang telah teridentifikasi, dan melaporkan jika menemukan kondisi jalan yang berpotensi membahayakan,” beber Insan. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com