Gelar Tradisi Udan Dawet di Sendang Punden Mandirejo, Cara Warga Banyuanyar Boyolali Minta Berkah Hujan

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 13:00 WIB
Tradisi Udan Dawet digelar warga Dukuh Dukuh, Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Boyolali di Sendang Punden Mandirejo, Kamis (18/9/2026). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)
Tradisi Udan Dawet digelar warga Dukuh Dukuh, Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Boyolali di Sendang Punden Mandirejo, Kamis (18/9/2026). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Ratusan warga Dukuh Dukuh, Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Boyolali berbondong-bondong membawa wadah tenongan berisi beragam uba rampe menuju Sendang Punden Mandirejo, Kamis (18/9/2026).

Rangkaian tradisi bersih desa (metri desa) bertajuk Udan Dawet tersebut diselenggarakan sebagai wujud rasa syukur.

Sekaligus sarana doa bersama agar hujan segera mengguyur wilayah setempat di tengah kemarau panjang.

Baca Juga: Sepekan Berlalu, Masih Ada Murid SMP di Bulukerto Tak Masuk Sekolah: Ini Kata Disdikbud dan Wabup Wonogiri

Setibanya di area situs, warga mengumpulkan seluruh tenongan di sekitar bibir sendang untuk didoakan oleh sesepuh desa sebelum disantap secara masal.

Selain tenongan, warga turut memboyong gunungan yang dihiasi bungkusan minuman dawet.

Puncak prosesi ritual ditandai dengan aksi warga melemparkan dawet secara serentak ke dalam sendang sebagai simbol pengharapan datangnya hujan yang membawa keberkahan.

Kepala Desa Banyuanyar Komarudin menjelaskan, ritual Udan Dawet merupakan bagian dari pelestarian warisan tradisi leluhur yang rutin dihelat setiap memasuki mongso kapat (bulan keempat penanggalan Jawa) yang menandai puncak musim kemarau.

"Melalui wasilah tradisi ini, kami berharap doa masyarakat dikabulkan dengan turunnya hujan yang membawa keberkahan bagi pertanian dan peternakan," ujar Komarudin, Jumat (18/9/2026).

Elemen dawet yang terdiri atas cendol, santan, dan gula jawa mengandung filosofi kemakmuran serta kenikmatan.

Baca Juga: “New Trick” Rose BLACKPINK Terdengar Ceria, Tapi Liriknya Bikin Nyesek

Ia tak menampik bahwa wilayahnya saat ini tengah dilanda dampak krisis air bersih.

"Udan dawet itu filosofinya permintaan hujan yang membawa kenikmatan dan keberkahan. Hujan sing apik, ora hujan sing marakke sengsara (hujan yang baik, bukan hujan yang mendatangkan kesengsaraan)," jelasnya.

Pemilihan titik Sendang Punden Mandirejo sebagai pusat penyeelenggaraan ritual didasari nilai historis keberadaan situs yang merupakan peninggalan era Kerajaan Mataram Kuno.

Antusiasme masyarakat terlihat tinggi sepanjang jalannya prosesi. Warga lintas generasi kompak mengenakan pakaian tradisional Jawa berupa busana lurik.

Baca Juga: Erin Buka Suara, Ungkap Andre Taulany Diduga Selingkuh dengan Sinden OVJ pada 2017

Salah seorang pemudi Desa Banyuanyar, Bella, menceritakan bahwa dirinya telah bersiap sejak pukul 03.00 WIB untuk berdandan dan memasak olahan pangan untuk diisikan ke dalam tenongan.

"Sangat luar biasa karena ini bentuk pelestarian budaya. Sejak pagi, ibu-ibu sudah sibuk memasak ingkung, nasi, sayuran, hingga jajanan pasar untuk diisi ke tenongan," kata Bella.

Harapan serupa dilontarkan oleh warga lainnya, Siti Aminah.

Ia mengungkapkan krisis air bersih di kawasan pemukimannya makin mendesak hingga memaksa sebagian warga membeli air pasokan.

Baca Juga: Erin Buka Suara, Ungkap Andre Taulany Diduga Selingkuh dengan Sinden OVJ pada 2017

"Kami berdoa kepada Allah agar segera diberi hujan yang penuh berkah. Saat ini pasokan air PAM mulai berkurang dan warga sampai harus membeli air," tutur Siti.

Pascapembacaan doa dan pelemparan dawet ke sendang, rangkaian acara ditutup dengan momen ramah tamah di mana warga menyantap hidangan bekal secara bersama-sama. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
tradisi udan dawet sendang punden mandirejo banyuanyar boyolali berharap hujan turun ampel boyolali