Pamsimas Mengering Total saat Puncak Kemarau, Warga Banyuanyar Boyolali Antre Air hingga Beli Tangki

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Jumat, 18 September 2026 | 18:27 WIB
Warga Dukuh Geneng, Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel mengantre untuk ambil air yang masih tersisa di sumur, Jumat (18/9/2026). (ARIEF BUDIMAN.RADAR SOLO)
Warga Dukuh Geneng, Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel mengantre untuk ambil air yang masih tersisa di sumur, Jumat (18/9/2026). (ARIEF BUDIMAN.RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Krisis air bersih di Kabupaten Boyolali dilaporkan kian meluas, salah satunya melanda warga Dukuh Geneng, Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel.

Masyarakat terpaksa mengantre untuk menimba air dari sumur-sumur warga yang kian menipis dan mengumpulkannya menggunakan wadah galon demi mencukupi kebutuhan harian.

Dampak kemarau panjang ini dipicu mengeringnya total sumber air Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di wilayah setempat.

Baca Juga: Keluarga di Boyolali Cemas Tunggu Kepastian Nasib Danang dan Deni Penumpang Kapal Virgo Transport 8

Kepala Desa Banyuanyar Komarudin menuturkan, ancaman krisis air bersih selalu menjadi tantangan rutin saban tahun.

"Secara umum, ini terjadi karena memang sudah memasuki puncak musim kemarau," kata Komarudin, Jumat (18/9/2026).

Komarudin memaparkan, pasokan air di Desa Banyuanyar pada dasarnya ditopang oleh tiga sumber utama, yakni jaringan PDAM, sumur gali warga, serta Pamsimas.

Namun, saat puncak kemarau melanda, skema pasokan terganggu akibat Pamsimas yang mati total.

"Kalau musim kemarau seperti ini, Pamsimas sudah tidak berfungsi. Otomatis warga hanya bisa mengandalkan PDAM dan sumur gali masyarakat, meskipun debit airnya sudah sangat menipis," jelasnya.

Sebagai wilayah berbasis desa peternakan, kebutuhan air bersih di Banyuanyar terbilang tinggi.

Baca Juga: Genjot Masa Tanam Padi, Petani Sukoharjo Terima Bantuan 92 Pompa Air

Pasokan air tidak hanya diserap untuk konsumsi harian rumah tangga, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan minum ternak sapi.

"Peternakan sapi di sini butuh konsumsi air yang sangat besar setiap hari. Untuk mengantisipasi kekurangan, mayoritas warga terpaksa membeli air tangki. Kalau kebutuhan sehari-hari masih diusahakan dari sumur dangkal, sebab pembuatan sumur bor di sini belum pernah ada yang berhasil," urai Komarudin.

Komarudin menambahkan, tampungan Pamsimas baru akan kembali terisi air secara alami begitu memasuki musim penghujan.

Terpaksa Beli Air Tangki Swasta

Baca Juga: Cuaca Kering dan Polusi Debu Kemarau, Kasus ISPA di Boyolali Melonjak Drastis

Dampak berhentinya operasional Pamsimas dirasakan langsung oleh masyarakat lokal. Salah seorang warga Dukuh Geneng, Siti Aminah, menyebut sistem Pamsimas di wilayahnya dibangun dengan model dam parit sehingga volume airnya bergantung penuh pada curah hujan.

"Kalau musim hujan airnya ada. Sekarang kekurangan air karena Pamsimas yang model dam parit itu mengering. Warga tidak cuma ngangsu (mengambil air), tapi harus patungan atau membeli air tangki," ungkap Siti Aminah.

Siti menceritakan bahwa debit kucuran air dari PDAM saat ini juga makin mengecil dan tidak mencukupi untuk pemakaian harian.

Guna menyiasatinya, warga terpaksa merogoh kocek untuk memesan air tangki dari penyedia swasta.

"Satu tangki kapasitas 5 ribu liter harganya Rp120 ribu," kata Siti. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
banyuanyar boyolali pamsimas mengering puncak kemarau Air Bersih