Bukan Sekadar Jual Larva, Budi Daya Maggotdi TPA Winong Boyolali Buka Peluang Bisnis Menggiurkan

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 12:26 WIB
Tempat budi daya maggot di TPA Winong Boyolali. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)
Tempat budi daya maggot di TPA Winong Boyolali. (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Winong, Kabupaten Boyolali, kini tidak lagi sekadar mengandalkan penjualan larva.

Pengelola TPA Winong, Hartanto, mengoptimalkan seluruh produk turunan dari hasil olahan sampah organik hingga bernilai ekonomi tinggi.

Selain menjual larva BSF segar, lokasi pengelolaan ini menyediakan jasa penanganan limbah organik sekaligus memproduksi kasgot (bekas maggot) untuk menyokong kebutuhan sektor pertanian.

Baca Juga: Jelang Lawan Persis Solo, PSBS Biak dapat Kabar Buruk Lagi, Kali Ini Karena Hal Sepele

Saban harinya, fasilitas di TPA Winong mampu menyerap dan mengolah hingga 2 ton sampah organik yang berasal dari buangan masyarakat.

Sampah sisa makanan dan limbah dapur rumah tangga tersebut dimanfaatkan sepenuhnya sebagai pakan utama larva BSF.

Dari siklus pengolahan tersebut, Hartanto mampu memanen sekitar 50 kilogram maggot segar per hari yang dipasarkan seharga Rp5.000 per kilogram.

"Jadi bukan hanya menjual maggot, tetapi ada jasa pengelolaan sampah dan kasgot yang bisa dimanfaatkan untuk pertanian. Bagi kami, maggot ini sebenarnya cuma alat pencetak uang," ujar Hartanto, Minggu (20/9/2026).

Hartanto menyebutkan bahwa hasil panen maggot segar banyak diburu oleh para peternak dan pembudidaya ikan lokal sebagai pakan alternatif berprotein tinggi.

Tidak berhenti pada produksi larva, sisa dari proses penguraian sampah oleh maggot menghasilkan pupuk organik kasgot yang berfungsi sebagai pembenah kualitas tanah.

Baca Juga: Puluhan Sopir Ambulans Geruduk SPBU di Pedan Klaten karena Tak Dilayani Isi BBM, Selesai lewat Mediasi

Volume produksi kasgot di TPA Winong mencapai 100 kilogram per hari dan dijual ke pasaran seharga Rp2.000 per kilogram.

"Turunan dari pengolahan sampah menjadi magot ini kan banyak. Ada jasa pengolahan sampah dan juga kasgotnya," kata Hartanto.

Melalui skema ini, pengelolaan sampah berbasis BSF terbukti tidak hanya efektif memangkas volume sampah yang masuk ke TPA, melainkan juga membentuk rantai ekosistem bisnis sirkular yang minim limbah (zero waste).

Ke depannya, Hartanto berkomitmen untuk terus mengeksplorasi potensi turunan lainnya agar seluruh hasil olahan sisa sampah organik dapat dimanfaatkan secara maksimal tanpa ada yang terbuang percuma. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Maggot Budi Daya Maggot sampah organik tpa winong boyolali