4 Trail Runner Tempuh 150 Km Bawa Aspirasi Tolak Geothermal di Gunung Lawu: Pejabat Harus Mau Dengar!

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 19:02 WIB
Aksi lari jarak jauh diinisiasi oleh Jumali, Udin, Wahyu Sigit, dan Zainudin untuk menyuarakan penolakan Geothermal di Gunung Lawu. Mereka melintasi Boyolali untuk menuju Semarang, Rabu (23/9/2026). (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)
Aksi lari jarak jauh diinisiasi oleh Jumali, Udin, Wahyu Sigit, dan Zainudin untuk menyuarakan penolakan Geothermal di Gunung Lawu. Mereka melintasi Boyolali untuk menuju Semarang, Rabu (23/9/2026). (ABDUL KHOFID/RADAR SOLO)

RADARSOLO.COM - Di tengah teriknya sengatan matahari di jalur lintas Kabupaten Boyolali pada Rabu (23/9/2026), tampak langkah pasti beberapa pria. 

Derap langkah kaki para pegiat ini membawa misi khusus, yakni menyuarakan penyelamatan Gunung Lawu dari ancaman eksplorasi proyek geothermal (panas bumi) dan praktik privatisasi kawasan wisata.

Aksi lari jarak jauh lintas kota ini diinisiasi oleh empat aktivis sekaligus atlet trail runner, yakni Jumali, Udin, Wahyu Sigit, dan Zainudin.

Baca Juga: Tingkatkan Kapasitas Lembaga Masyarakat, POKMAS Sriwedari Gelar Pelatihan Identifikasi Kerja Sama

Zainudin, yang juga merupakan pemandu gunung serta relawan asal Solo, bersama rekan-rekannya menembus rupa-rupa medan jalan raya dari lereng Gunung Lawu menuju Kantor Gubernur Jawa Tengah di Kota Semarang.

"Ini aksi lari untuk menolak geothermal dan privatisasi wisata, tidak hanya untuk Gunung Lawu, tapi untuk seluruh gunung di Nusantara," ujar Zainudin saat ditemui di sela perjalanannya di Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali.

Sengatan panas terik matahari siang, kepulan debu kemarau, hingga asap kendaraan tidak menyurutkan tekad rombongan untuk menyampaikan aspirasi lingkungan tersebut.

Bagi Zainudin, Gunung Lawu yang menjulang setinggi 3.265 meter di atas permukaan laut (mdpl) bukan sekadar bentang alam biasa, melainkan memiliki nilai spiritual dan historis yang amat sakral.

"Gunung Lawu itu tempat sakral. Dari rakyat biasa, tokoh penting, sampai Presiden sering naik ke sana. Harusnya semua paham untuk menjaga alamnya tetap lestari, bukan malah dijadikan komoditas bisnis semata," tegas pria yang rutin menjajal jalur lintas alam sejak 2022 tersebut.

Zainudin khawatir ksplorasi energi panas bumi di kawasan pegunungan tidak hanya memengaruhi mata pencaharian petani dan pedagang lokal.

Baca Juga: STABN Raden Wijaya Cetak Sejarah, Wisuda Pertama Magister Kepenyuluhan Buddha

Aktivitas ekstraksi geothermal berpotensi menyebarkan emisi bau sulfur menyengat yang membahayakan kesehatan warga sekitar maupun para pendaki.

Aksi fisik menempuh rute belasan hingga puluhan kilometer ini tidak dilalui tanpa hambatan.

Rombongan pelari yang bertolak dari titik start lereng Lawu sejak Senin (22/9/2026) pukul 09.00 WIB sempat mengalami kendala kesehatan fisik.

Dari tiga pelari utama, Zainudin sempat diserang asam lambung tinggi, sementara rekannya mengalami cedera pada kaki.

Kendati demikian, skema lari estafet terus menyokong keberlanjutan aksi di sepanjang rute.

Baca Juga: Status Manajer Kopdes Merah Putih Pegawai BUMN atau Bukan? Silang Pendapat Agrinas dengan Danantara, Ini Penje

Sesuai rencana perjalanan, usai melintasi wilayah Boyolali, para pelari akan beristirahat di kawasan Ungaran sebelum melintasi garis finish di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Semarang.

Setibanya di lokasi tujuan, mereka akan bergabung dengan gelombang aksi massa gabungan warga dan elemen masyarakat dari 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah yang tergabung dalam gerakan Jateng Gayeng.

Para pelari ini menempuh total jarak penyisiran rute sekitar 150 kilometer, melintasi kawasan Cemoro Sewu, Karanganyar, Solo, Boyolali, Salatiga, Ungaran, hingga bermuara di Kota Semarang.

"Harapan kami sederhana, para pejabat harus mau mendengar, ikut menolak, dan berdiri bersama rakyat untuk menjaga kelestarian alam ini," tegas Zainudin.

Di sisi lain, Aktivis Jaga Lawu Agus Megando menuturkan, gelombang penolakan dari masyarakat didasari oleh bukti empiris di lapangan.

Baca Juga: Diduga Tercemar Limbah, Ratusan Kilogram Ikan Budi Daya di Prambanan Klaten Mati Massal

Lembaganya—yang merupakan bentuk regenerasi dari jaringan A2PGL—telah melakukan peninjauan langsung ke kawasan proyek geothermal di Dieng, Kabupaten Wonosobo.

"Kami tidak sekadar membaca teori. Kami cek langsung ke Wonosobo. Pemandangannya rusak karena pipa-pipa membentang ke mana-mana, bau dan pencemaran lingkungannya sangat terasa, bahkan bukit-bukitnya terkikis dan longsor tipis-tipis seperti bekas lintasan motor trail," ungkap Agus Megando.

Agus menguraikan bahwa karakteristik struktur tanah di kawasan Jenawi, Karanganyar, saat ini sudah memperlihatkan fenomena retakan alami.

Masuknya proyek alat berat skala besar dikhawatirkan memicu peningkatan risiko bencana alam, merusak habitat satwa endemik, serta mengganggu pasokan mata air pertanian.

Baca Juga: Diduga Tercemar Limbah, Ratusan Kilogram Ikan Budi Daya di Prambanan Klaten Mati Massal

Guna memperluas edukasi publik, komunitas Jaga Lawu terus bergerak menggelar sosialisasi berbasis warga dari rumah ke rumah hingga memanfaatkan forum arisan RT.

Selain itu, mereka kini menggalang dana swadaya untuk memberangkatkan para tokoh masyarakat kawasan Jenawi agar menyaksikan secara langsung kondisi riil dampak proyek geothermal di Wonosobo.

"Kami ingin membawa para tokoh masyarakat ke Wonosobo agar melihat sendiri dampaknya. Biar setelah pulang, mereka bisa menilai dan berbicara sendiri," tegas Agus. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
geothermal gunung lawu trail runner penolakan geothermal gunung lawu ancaman kerusakan lingkungan Eksplorasi