50 Pelajar SMP Boyolali Ikut Kelana, Belajar Literasi Sambil Keliling Kota Naik Angkot

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 10:19 WIB
50 Pelajar SMP Boyolali Ikut Kelana, Belajar Literasi Sambil Keliling Kota Naik Angkot (Abdul Khofid/Radar Solo)
50 Pelajar SMP Boyolali Ikut Kelana, Belajar Literasi Sambil Keliling Kota Naik Angkot (Abdul Khofid/Radar Solo)

RADARSOLO.COM -  Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Arpus) Kabupaten Boyolali menggelar program kegiatan edukasi literasi dengan aksi nyata (Kelana), Kamis (24/9/2026).

Kegiatan ini dirancang khusus untuk mengajak para siswa tingkat SMP mengenal lebih jauh potensi daerahnya secara langsung, di luar ruang perpustakaan.

Tidak sekadar membaca buku di dalam gedung, para peserta diajak berkeliling menjelajahi berbagai titik strategis di Boyolali menggunakan Angkutan Kota (Angkot).

Kepala Dinas Arpus Kabupaten Boyolali, Arif Budi Nuranto, mengungkapkan bahwa perpustakaan masa kini tidak hanya berfungsi sebagai pusat baca, tetapi juga berperan aktif dalam meliterasi masyarakat.

"Kegiatan ini kami mulai dari pelajar tingkat SMP agar mereka memahami literasi melalui metode observasi: mengamati, bertanya tentang apa yang mereka lihat, lalu menceritakan kembali apa yang telah dipelajari sepanjang perjalanan," jelas Arif, Kamis (24/9/2026).

Rute perjalanan program Kelana ini dimulai dari titik awal di Perpusda Remen Maos. Rombongan kemudian bergerak menuju destinasi pertama, yakni Simpang Tiga Menara, yang menampilkan berbagai miniatur ikonik dunia seperti Menara Eiffel.

Perjalanan dilanjutkan ke Wisata Edukasi Religi Qolbu (Wer qolbu) guna mengenalkan kawasan wisata religi bagi kaum Muslimin, khususnya yang berkaitan dengan manasik haji dan umrah. 

Setelah itu, rombongan singgah di Simpang Solidaritas untuk melihat deretan miniatur keajaiban dunia lainnya, termasuk Candi Borobudur dan Patung Sphinx.

Destinasi berikutnya adalah Museum R. Hamong Wardoyo. Arif mengatakan, nama museum ini diambil dari Raden Hamong Wardoyo selaku tokoh penggerak sejarah sekaligus bupati pertama Boyolali. 

Di sini, para siswa juga diajak mendalami akar peradaban dan sejarah lokal Kabupaten Boyolali.

Perjalanan berlanjut ke Kebun Raya Indrokilo, sebuah pusat edukasi dan riset botani yang memiliki ikon unik berupa Kapal Nabi Nuh.

“Kenapa ada Nabi Nuh? Ternyata di sana Nabi Nuh itu menginspirasi bahwa semua pusat peradaban manusia itu berkumpul di situ,” beber Arif.

Sebagai penutup, rangkaian perjalanan singgah di Alun-Alun Kidul yang berada di kawasan perkantoran baru. 

Di pusat pemerintahan baru ini, yang mencakup kantor bupati hingga berbagai dinas dan badan, terdapat pula lima tempat ibadah yang berdiri berdampingan sebagai simbol nyata toleransi serta keharmonisan antarumat beragama di Boyolali.

Dalam Kelana ini, setiap peserta dibekali ponsel pintar dan alat tulis untuk mencatat serta merangkum pengalaman menarik mereka. 

“Bagi yang bisa menceritakan kembali dengan baik dan apa yang dirasakan menurut panitia menonjol akan kita berikan reward,” tambahnya.

Selain itu, setiap angkot juga didampingi oleh guide profesional untuk memandu perjalanan. 

Dinas Arpus berkolaborasi dengan pemandu khusus dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) serta Dinas Lingkungan Hidup (DLH) di lokasi-lokasi tertentu, seperti di Museum R. Hamong Wardoyo dan Kebun Raya Indrokilo.

Arif menyebutkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh 50 orang peserta dari total 10 sekolah.

“Insya Allah kita melihat respon dari para peserta maupun dari para pemirsa nanti, sekiranya itu memang positif akan kita kembangkan di tahun-tahun mendatang,” tuturnya.

Menariknya, pemilihan transportasi angkot dalam kegiatan ini bukan tanpa alasan. 

Langkah tersebut merupakan bentuk dukungan nyata untuk menghidupkan kembali angkutan umum perkotaan di Boyolali, yang kondisinya saat ini hidup segan mati tak mau.(fid)

Editor : Nur Pramudito
Sumber : Radar Solo
50 pelajar SMP Boyolali Kelana Boyolali belajar literasi Boyolali Dinas Arpus Boyolali