BMKG Prediksi Musim Hujan Molor Hingga Desember, BPBD Boyolali Perluas Penanganan Kekeringan

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Minggu, 27 September 2026 | 11:03 WIB
Dropping air bersih di Boyolali. (Abdul Khofid/Radar Solo)
Dropping air bersih di Boyolali. (Abdul Khofid/Radar Solo)

RADARSOLO.COM— Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Boyolali memperketat langkah mitigasi.

Langkah ini diambil menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memperkirakan awal musim hujan baru akan terjadi pada pertengahan hingga akhir November.

Baca Juga: Jari Bengkak Gegara Tak Bisa Lepas Cincin, Warga Kemiri Boyolali Minta Bantuan Damkar

Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Boyolali Ari Wahyu Prabowo mengungkapkan bahwa wilayah Boyolali termasuk salah satu daerah yang mengalami perlambatan musim hujan.

"Ada kemungkinan memang di awal bulan Desember (hujan), tapi juga tidak menutup kemungkinan ini nanti juga bisa memperpanjang lagi di awal tahun 2027. Tapi kita berharap sekali lagi, segera turun hujan secepatnya," ujar Ari.

Hingga update data terbaru, dampak kekeringan akibat kemarau panjang di Kabupaten Boyolali terpantau semakin meluas.

Kekeringan telah meluas mencakup 13 kecamatan, 45 desa, serta 144 dukuh.

Pemkab Boyolali berkolaborasi dengan seluruh stakeholder telah menyalurkan dropping air bersih sebanyak lebih dari 5,6 juta liter.
 
Wilayah Boyolali Utara masih menjadi titik terparah yang setiap tahunnya langganan mengalami kekeringan ekstrem, khususnya di Kecamatan Wonosegoro, Wonosamodro, dan Juwangi. 

Meskipun tidak merata di semua desa, beberapa wilayah di kecamatan tersebut terdampak cukup parah.

Sebagai langkah penanganan jangka panjang, BPBD bekerja sama dengan BNPB tengah melakukan survei geolistrik guna merealisasikan proyek pengeboran sumur dalam.

Baca Juga: Honda Rebel 250 Terbaru Dapat Fitur Canggih, E-Clutch Bikin Motor Bobber Ini Makin Praktis

"Saat ini kami baru melakukan survei ya, baru melakukan survei karena ini kita berkolaborasi dengan BNPB, ini kita baru melakukan penghitungan anggaran untuk pengeboran air," tutur Ari.

"Karena memang kedalamannya di wilayah-wilayah yang terdampak ini kedalamannya cukup tinggi, bervariasi antara 80, 100, bahkan ada yang sampai 180 meter," imbuhnya. 

Salah satu titik prioritas penanganan adalah Desa Ngaren, Kecamatan Juwangi yang secara rutin menjadi langganan kekeringan setiap tahunnya.

Baca Juga: AZA 3X3 Competition 2026 Hadir di Solo, 25 Tim Berebut Gelar Juara: Ini Hasil Drawingnya

Ari melanjutkan, setelah BPBD dan BNPB melakukan survei geolistrik di wilayah Ngaren, ditemukan potensi air dalam. 

"Iya, untuk desa di Ngaren ini untuk dropping air untuk jangka pendek selalu kita lakukan. Ini selalu rutinitasnya kita lakukan dropping air bersih. Dan kami kemarin baru saja dari BNPB melakukan geolistrik di wilayah Ngaren, dan harapan kita nanti dalam waktu dekat kita bisa melakukan pengeboran air," jelasnya.

Pihaknya berharap bisa melakukan upaya dengan cepat, dengan harapan tahun ini bisa dilakukan pengeboran sehingga dapat mengurangi dampak terkait dengan kekeringan di wilayah tersebut.

Baca Juga: Pemilik Masih Terlelap, Rumah Warga Baki Sukoharjo Terbakar

Terkait batas waktu penyaluran air bersih, pihak BPBD memastikan pelayanan tersebut akan terus berjalan tanpa batas waktu tertentu hingga kondisi kekeringan benar-benar berakhir dan musim hujan tiba.(fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
bnbp BPBD Boyolali kemarau kekeringan