RADARSOLO.COM - Suara dentang palu yang beradu dengan lembaran logam tembaga terdengar ritmis dari deretan bengkel kerja di Dukuh Tumang, Desa Cepogo, Kecamatan Cepogo, Boyolali.
Di kawasan lereng Gunung Merapi-Merbabu tersebut, industri kerajinan tembaga telah mendarah daging serta menjadi urat nadi perekonomian masyarakat secara turun-temurun.
Sebagai salah satu sentra industri kerajinan tembaga unggulan di tanah air, para perajin lokal di Tumang mampu melahirkan aneka produk berestetika tinggi—mulai dari ornamen dinding, perlengkapan rumah tangga, hingga lampu hias eksklusif bernilai puluhan juta rupiah.
Baca Juga: Rusa Taman Sriwedari Lepas Lagi, Populasi Disorot
Di balik kemegahan karya tembaga, tersimpan ketangguhan sosok Sukamti (57), perempuan yang telah mendedikasikan separo perjalanan hidupnya sebagai pemahat tembaga sejak tahun 1985.
Selama kurang lebih 41 tahun, Sukamti konsisten menekuni profesi pahat logam.
Keahlian tersebut diwariskan secara turun-temurun dari orang tuanya, yang kemudian diasah bersama mendiang suaminya, Widodo.
Bagi Sukamti, memahat bukan sebatas profesi penopang kebutuhan dapur, melainkan wujud tanggung jawabnya sebagai tulang punggung keluarga.
"Ya, kan saya harus mencukupi kebutuhan sehari-hari, untuk biaya anak sekolah, ya apa keperluan di rumah. Saya kan jadi tulang punggung di rumah," kata Sukamti, Senin (28/9/2026).
Di tengah lingkungan kerja yang didominasi oleh kaum pria, Sukamti berdiri tegak sebagai satu-satunya perajin perempuan di antara ratusan pemahat di lingkungannya.
Baca Juga: Rekor Veda Ega Pratama di Sirkuit Motegi Jadi Modal Moto3 Jepang 2026, Pembalap KTM Wajib Waspada
Dari kisaran 100 orang pemahat, hanya ia yang konsisten berprofesi sebagai perempuan pemahat.
Ketekunan Sukamti berpegang teguh pada amanat mendiang suaminya agar senantiasa memiliki kemandirian dan keterampilan hidup. Ia kerap mengibaratkan perannya seperti tokoh pewayangan Srikandi.
"Ya kalau saya itu jadi orang perempuan, itu ya kalau di dalam pewayangan saya seperti Srikandi itu. Iya, saya harus cari rezeki, saya jangan cuma jadi perempuan cuma nongkrong. Orang Jawa cuma ngabotke (menggantungkan) suami, jangan gitu," tegas Sukamti.
Keahlian serta kehalusan pahatan tangan Sukamti diakui menjadi aset vital dalam proses produksi di Muda Tama Gallery.
Baca Juga: Kondisi Terkini Bayi yang Ditemukan di KA Sancaka, Siapa yang Merawatnya?
Pemilik galeri, Agus Susilo, mengakui bahwa talenta pahat manual seperti yang dimiliki Sukamti kini tergolong sangat langka.
"Jadi kalau Ibu Sukamti itu memang spesial untuk memahat tembaga ya. Memahat tembaga itu memang sangat bagus sekali. Sekarang itu untuk memahat memang jarang, tapi kalau Ibu Sukamti ini memang dari dulu keahliannya adalah memahat," puji Agus.
Di balik keahlian langka tersebut, Agus menyoroti persoalan klasik yang dihadapi industri kerajinan tangan (handmade).
Menurutnya, tingkat apresiasi harga jual di pasaran saat ini belum sebanding dengan kerumitan serta nilai seni tinggi yang dihasilkan.
"Sebenarnya kalau sebanding sih belum sih. Kalau sudah dinilai dari seninya, itu sebenarnya belum sebanding dengan harga yang kita jual sekarang," ungkap Agus.
Agus menilai karya murni buatan tangan sejatinya menyimpan potensi nilai ekonomi jauh lebih tinggi.
Baca Juga: Unggul 2-0 tapi Gagal Menang, Stefan Keeltjes Kecewa Berat Lihat Hasil Kendal Tornado FC di Liga 2
Akan tetapi, para perajin di tingkat lokal masih menghadapi kendala jangkauan akses pasar serta kekuatan citra merek (branding) jika dibandingkan dengan seniman murni.
Industri kerajinan tembaga Tumang memerlukan rentetan tahapan produksi yang menuntut ketelatenan ekstra—dimulai dari pemotongan lembaran logam, pembentukan awal, pengukiran pahat manual, hingga tahap penyelesaian akhir (finishing).
Di tengah arus modernisasi, dedikasi perajin senior seperti Sukamti menjadi pilar utama penjaga kelestarian warisan budaya dan penggerak roda ekonomi kerakyatan di Kabupaten Boyolali. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com