RADARSOLO.COM-Musim kemarau panjang hingga akhir September 2026 memberikan dampak serius terhadap sektor pertanian di Kabupaten Boyolali.
Menyusutnya debit air pada pelbagai saluran irigasi mengancam ribuan hektare lahan sawah.
Sementara dua waduk utama di kawasan tersebut dilaporkan mengalami penyusutan volume air secara signifikan.
Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali Suyanta menuturkan, imbas utama dari kemarau panjang ini adalah menurunnya ketersediaan pasokan air irigasi yang bersumber dari waduk, embung, aliran sungai, maupun air permukaan.
Baca Juga: Kasus TB di Mojolaban Sukoharjo Tinggi, Satu Pasien Meninggal
"Dampaknya berupa penurunan luas tanam, khususnya pada lahan sawah yang bergantung pada irigasi permukaan, serta pergeseran jadwal tanam karena petani harus menunggu ketersediaan air," ujar Suyanta, Selasa (29/9/2026).
Suyanta menjelaskan, sebagian hamparan lahan pertanian berpotensi mengalami kondisi bera (tidak dapat ditanami) apabila pasokan air tidak mencukupi.
Tanaman pangan juga membayang risiko penurunan volume produksi jika diterpa cekaman kekeringan pada fase pertumbuhan kritis.
Dari sisi finansial, para petani terpaksa menanggung peningkatan beban biaya operasional akibat penggunaan pompa air, pembuatan sumur, atau penyediaan sumber air alternatif lainnya.
Sebagai langkah adaptasi, sejumlah petani di pelbagai wilayah mulai beralih memelihara komoditas yang lebih hemat air.
Seperti tanaman palawija, atau menyelaraskan umur tanaman dengan sisa ketersediaan air.
Selain krisis pasokan air, cuaca ekstrem kemarau panjang memicu peningkatan risiko serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).
"Kondisi lingkungan saat ini menjadi lebih mendukung bagi perkembangan beberapa jenis hama, seperti tikus dan wereng batang coklat," tambahnya.
Merespons kondisi tersebut, Dispertan Boyolali mengoptimalkan peran Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) untuk mengatur skema distribusi air secara bergiliran dan efisien.
Baca Juga: Pasutri Pimpinan Koperasi Dinar Mulia-Alfa Dinar Karanganyar Ditetapkan sebagai Tersangka
"Kami menentukan prioritas tanam. Lahan yang memiliki sumber air lebih terjamin diprioritaskan untuk tanaman pangan, sedangkan lahan dengan keterbatasan air perlu menyesuaikan jenis komoditas dan waktu tanamnya," terang Suyanta.
Di samping penjadwalan gilir air, pemerintah setempat mengoptimalkan pemanfaatan sumber air alternatif—mulai dari sumur dalam, sumur dangkal, embung, long storage, hingga penyedotan sisa air permukaan.
Penyaluran bantuan infrastruktur berupa rehabilitasi jaringan irigasi tersier, irigasi perpompaan, dan perpipaan turut digelontorkan.
Kondisi Waduk Bade dan Waduk Cengklik
Terkait ketersediaan air penampungan, Suyanta menguraikan Boyolali ditopang dua waduk utama di bawah kewenangan pemerintah provinsi, yakni Waduk Bade di Kecamatan Klego dan Waduk Cengklik.
Keduanya kini mencatatkan penurunan debit dan volume air akibat minimnya curah hujan.
Merujuk data BBWS Pemali Juana Semarang, Waduk Bade memikul cakupan daerah layanan irigasi seluas kurang lebih 1.353 hektare yang mengaliri lahan pertanian di sejumlah desa di Kecamatan Andong dan Klego.
Baca Juga: Miss Batik Indonesia Cultural Festival 2026: Dari Pageant Menuju Cultural Movement
"Dengan menurunnya ketersediaan air, seluruh areal layanan tersebut perlu diantisipasi melalui pemilihan pola tanam yang tepat agar ketersediaan air tetap mencukupi," tutur Suyanta.
Sesuai Keputusan Bupati Boyolali mengenai Pedoman Pelaksanaan Pola Tanam dan Tata Tanam pada Daerah Irigasi di Waduk Bade, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) merekomendasikan agar para petani menanam komoditas palawija pada Musim Tanam III dan tidak dianjurkan menanam padi. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com