RADARSOLO.COM-Mempercantik dan memperindah tata lingkungan warga tidak selamanya membutuhkan anggaran berbiaya tinggi.
Warga RW 03, Kelurahan Banaran, Kecamatan Boyolali, membuktikannya melalui gerakan pemberdayaan masyarakat yang memanfaatkan pengolahan limbah rumah tangga dari 7 wilayah RT menjadi dekorasi bernilai seni.
Inisiatif swadaya mandiri ini digulirkan sebagai langkah solutif serta inovatif dalam menjawab tantangan pengelolaan sampah di tingkat lokal.
Haryono, tokoh masyarakat setempat menjelaskan, gerakan pemanfaatan limbah tersebut tidak hanya sebatas memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan RI.
Tetapi juga berfungsi sebagai wahana edukasi kemandirian warga dalam mengelola sampah.
"Kita berusaha meminimalkan penggunaan barang baru agar sampah plastik dan limbah rumah tangga bisa kita sulap menjadi hiasan menarik atau barang tepat guna. Langkah ini sekaligus menekan biaya operasional kegiatan secara swadaya," ujar Haryono.
Gerakan ini dilandasi oleh belum optimalnya daya tampung bank sampah tingkat RT di tengah lonjakan volume limbah warga.
Lewat aksi konkret ini, masyarakat didorong untuk mengoptimalkan potensi circular economy (ekonomi sirkular) di tingkat akar rumput.
Hasil olahan bahan bekas tersebut turut diikutsertakan dalam ajang perlombaan kemerdekaan pada Agustus lalu, dengan menghasilkan deretan karya bertema patriotisme.
Poskamling Perjuangan dari Barang Rongsokan
Baca Juga: Pesanan Turun, Perajin Batik di Wonogiri Mode Bertahan
Wujud kreativitas warga tampak menonjol pada pendirian pos keamanan lingkungan bernuansa "Poskamling Perjuangan".
Melalui kerja gotong royong selama tiga minggu, warga berhasil merangkai rongsokan menjadi instalasi seni edukatif.
Di lokasi tersebut dipajang karya peta Indonesia 3D yang dirancang dari olahan kertas koran bekas yang dihancurkan menjadi bubur kertas.
Selain itu, terdapat potret Bung Karno dan Bung Hatta serta Naskah Proklamasi yang dibingkai memanfaatkan alas baki bekas.
Hiasan bunga berbahan plastik, ornamen bertuliskan "HUT RI" dari kemasan gelas bekas, hingga replika tank tembak yang dirakit dari kayu dan pipa paralon sisa bangunan turut melengkapi instalasi.
Inovasi pemberdayaan berbasis komunitas ini menuai apresiasi dari jajaran pemerintah kelurahan.
Sekretaris Kelurahan Banaran, Singgih Winarso, menilai aksi warga RW 03 sebagai contoh nyata pembangunan wilayah yang partisipatif serta berwawasan lingkungan.
"Kami sangat mengapresiasi dan memberikan penghargaan sebesar-besarnya kepada warga RW 03. Penggunaan bahan bekas ini luar biasa," kata Singgih Winarso, Jumat (2/10/2026).
Pihak kelurahan berharap gerakan swadaya di RW 03 Banaran ini dapat menjadi inspirasi bagi lingkungan RT dan RW lainnya di Kabupaten Boyolali dalam mengelola potensi lokal secara berkelanjutan. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com