Hanya Tersisa 2 Embung yang Ada Airnya: Pudam Boyolali Siapkan Skenario Terburuk

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 12:53 WIB
Petugas Pudam Boyolali mengecek tandon air. (Abdul Khofid/Radar Solo)
Petugas Pudam Boyolali mengecek tandon air. (Abdul Khofid/Radar Solo)

RADARSOLO.COM-Pengolahan air bersih yang dilalukan Perumda Air Minum (Pudam) Tirta Ampera Boyolali sangat tergantung pada debit air sejumlah embung.

Namun, pada kemarau ini, banyak embung mengering.

Direktur Teknik Perumda Tirta Ampera Yuffi Agtria Primajaya menuturkan, wilayah yang paling berisiko tinggi menghadapi krisis air bersih adalah kawasan yang mengandalkan pasokan dari embung.

Baca Juga: Honda BR-V vs Toyota Veloz Hybrid Terbaru 2026, Harga Beda Tipis, Mana yang Lebih Nyaman?

"Kami melakukan pemantauan ketat terhadap sisa kapasitas air di embung-embung tersebut. Pengolahan air dibatasi dan diatur sesuai kebutuhan agar cadangannya dapat bertahan hingga perkiraan musim hujan tiba," ungkap Yuffi, Senin (5/10/2026).
 
Merujuk data Pudam Boyolali, dari total delapan embung yang mereka kelola, hanya tersisa dua embung yang masih berair, yaitu Embung Musuk dan Embung Pusporenggo.

Sementara itu, enam embung lainnya mengalami kekeringan. Di antaranya:

Untuk menyiasati kondisi ini, Pudam mengandalkan sumur-sumur pendukung serta sistem interkoneksi antarjaringan pipa. 

Jika suatu embung kehabisan air, pasokan dapat dialihkan melalui jalur pipa dari embung di sekitarnya dengan sistem buka-tutup aliran.

Sebagai langkah mitigasi jika kemarau berlanjut hingga awal tahun 2027, Pudam telah menyiapkan skenario terburuk, berupa pembatasan waktu, penjadwalan aliran air, serta pengiriman tangki darurat ke lokasi-lokasi paling kritis. 

Debit air saat ini juga mulai disesuaikan dan dijadwalkan agar distribusi tetap merata dan cadangan air tidak cepat habis.

Baca Juga: Suzuki GSX250R-F Terbaru Meluncur, Motor Sport 250 Cc Ini Punya Teknologi VVL dan Tenaga 29 PS Gahar

Sebagai solusi jangka panjang, pihak Pudam terus berinovasi mencari sumber-sumber air baku baru di kawasan pegunungan. 

Salah satunya dengan membangun penampungan catchment untuk menangkap aliran permukaan di daerah berstruktur tanah porus, yang selama ini langsung meresap ke dalam tanah, agar bisa dialirkan kembali ke embung-embung penampungan.

Sementara itu, Direktur Utama Pudam Tirta Ampera Iwan Marwanto mengungkapkan, beberapa sumber air permukaan yang mengandalkan sistem rembesan mengalami penurunan debit.

Baca Juga: Bukan Sekadar Kompetisi Basket, Smaliska Sebut DBL  Solo 2026 sebagai Tempat Merajut Kekeluargaan

Namun, pasokan air untuk pelanggan dipastikan tetap terkendali.

"Untuk pelanggan Pudam, sampai dengan bulan Oktober saat ini, masih aman. Sampai dengan nanti di akhir tahun itu masih aman. Walaupun memang ada beberapa sumber yang mengalami drop air, terutama sumber air dari permukaan yang merembes itu," terangnya.

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya telah melakukan rekayasa aliran agar distribusi air tetap berjalan lancar dan merata.

Selain menjaga distribusi reguler, Pudam Boyolali aktif menjalankan fungsi sosial dengan mendistribusikan air bersih ke wilayah-wilayah yang terdampak kekeringan bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Baca Juga: 16 Sayuran yang Cocok Ditanam di Rumah, Bisa Dipanen Kurang dari Dua Bulan untuk Kebun yang Produktif

Hingga saat ini, pihak perumda telah menyalurkan sekitar 200 hingga 300 tangki air bersih, di mana setiap tangki berkapasitas 5.000 liter. 

Bantuan ini tidak hanya menyasar wilayah Boyolali Utara, melainkan juga merambah kawasan pegunungan seperti Kecamatan Tamansari dan sekitarnya.

Di samping penyaluran bersama BPBD, Pudam juga melayani permintaan dropping air secara mandiri, baik atas permohonan warga maupun kelompok sosial yang membutuhkan. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
Pudam Tirta Ampera Boyolali embung debit air kekeringan pelanggan