Embung Musuk 2 Boyolali Mengering Lebih Cepat dari Tahun Sebelumnya

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 14:56 WIB
Kondisi Embung Musuk 2 Boyolali yang sudah tidak terlihat genangan air. (Abdul Khofid/Radar Solo)
Kondisi Embung Musuk 2 Boyolali yang sudah tidak terlihat genangan air. (Abdul Khofid/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Kemarau panjang memicu kekeringan di sejumlah wilayah di Kabupaten Boyolali.

Salah satunya terjadi pada Embung Musuk 2 di Desa/Kecamatan Musuk yang dilaporkan telah mengering total dalam sepekan terakhir.

Kepala Desa Musuk Febrian Catur Nugroho menjelaskan, penyusutan debit air embung sudah mulai terjadi sejak Agustus lalu, dan benar-benar mengering memasuki akhir September hingga awal Oktober ini.

Baca Juga: Motif Lace Kini Jadi Aksesori Fashion yang Curi Perhatian Gen Z

Kondisi tersebut dipicu curah hujan nihil dan mengecilnya debit sungai yang selama ini menjadi sumber utama pengisian embung.

"Embung ini kan kebetulan dari sungai. Sungai sekarang debitnya sangat kecil. Menyusutnya mulai bulan Agustus, dan kemungkinan sudah hampir satu mingguan ini airnya habis total. Jadi sekarang pengelolaannya hanya difokuskan pada satu embung yang masih tersisa," beber Febrian, Selasa (6/10/2026).

Kekeringan embung ini merupakan siklus yang sudah terjadi dalam tiga tahun terakhir.

Namun, tahun ini penyusutannya dinilai jauh lebih cepat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Febrian melanjutkan, tahun-tahun sebelumnya embung mulai kering sepenuhnya pada bulan Oktober atau November.

Sedangkan tahun ini, pada September sudah kering sepenuhnya.

Baca Juga: Cegah Kasus Bullying di Sekolah, Sat Binmas Polres Boyolali Edukasi Siswa SLB BC Mitra Amanda

“Kemarau kali ini mungkin ada pengaruh El Nino juga," imbuhnya.

Selama ini, embung seluas kurang lebih 2,4 hektare tersebut dikerjasamakan untuk menyuplai air bersih yang dikelola oleh PDAM.

Karena itu, dampak kekeringan paling terasa dialami oleh para pelanggan PDAM.

Embung Musuk 2 memiliki kedalaman kurang lebih 11 meter dari dasar hingga batas ketinggian air maksimal.

Meski pasokan air PDAM bakal terganggu, kebutuhan air bersih harian bagi warga Desa Musuk secara umum belum berstatus krisis. 

Baca Juga: Insan Cendekia Siap Evaluasi Diri usai Takluk dari SMA Warga di DBL Solo 2026

Warga masih bisa mengandalkan aliran air sungai yang tersisa.

Namun, Febrian mengkhawatirkan potensi krisis air bersih jika hujan tak kunjung turun hingga akhir tahun. 

Jika sampai November atau awal Desember belum ada hujan, dia memprediksi krisis air bisa semakin meluas seperti tahun lalu.

Pasalnya, jika sebelumnya embung bisa penuh di awal tahun apabila di bulan Oktober-November sudah mulai hujan.

Namun apabila sesuai prediksi kemarau masih berlangsung hingga awal 2027, ketersediaan air dipastikan kurang, dan embung tidak bisa penuh di Februari-Maret.

Baca Juga: Absedon Tembus Top 4, Bidik Gelar Best Supporter di Event Honda DBL with Kopi Good Day 2026 Central Java-South

Bagaimana dampaknya terhadap sektor pertanian di Desa Musuk?

Febrian menjelaskan, petani setempat mengandalkan sistem tadah hujan atau monsun, bukan irigasi dari embung.

"Kalau untuk pertanian, petani jarang atau bahkan tidak pernah memanfaatkan air dari embung. Karena kemarau, memang jarang yang menanam. Saat ini mereka masuk masa persiapan, nanti kalau sudah mulai turun hujan baru aktivitas pertanian berjalan lagi," urainya.

Diketahui, Desa/Kecamatan Musuk terdapat dua embung utama. Yakni Embung Musuk 1 dan Embung Musuk 2.

Berbeda dengan Embung Musuk 2, debit air di Embung Musuk 1 masih dikategorikan aman. (fid)

Editor : Tri Wahyu Cahyono
Sumber : Radarsolo.jawapos.com
embung musuk 2 boyolali embung musuk mengering embung musuk mengering lebih cepat el nino pdam