Harga Sayur dan Beras di Boyolali Meroket, Cabai Tembus Rp 80 ribu Perkilo

Abdul Khofid Firmanda Putra • Dipublikasikan Kamis, 8 Oktober 2026 | 13:22 WIB
Harga Sayur dan Beras di Boyolali Meroket, Cabai Tembus Rp 80 ribu Perkilo (Abdul Khofid/Radar Solo)
Harga Sayur dan Beras di Boyolali Meroket, Cabai Tembus Rp 80 ribu Perkilo (Abdul Khofid/Radar Solo)

RADARSOLO.COM - Harga sejumlah komoditas sayuran dan bahan pokok di Pasar Kota Boyolali mengalami lonjakan signifikan.

Kondisi ini mulai dikeluhkan oleh para pedagang dan pembeli, mengingat hampir seluruh kebutuhan dapur merangkak naik secara bersamaan.

Rokayah, salah satu pedagang sayur di Pasar Kota Boyolali mengungkapkan, kenaikan merata terjadi pada berbagai jenis sayuran, mulai dari cabai, bawang merah, bawang putih, wortel, labu siam, sawi putih, hingga brokoli.

Lonjakan paling drastis terjadi pada komoditas cabai. Harga cabai rawit, cabai merah keriting, maupun cabai merah teropong kini serempak menembus Rp80 ribu per kilogram (kg). 

Padahal sebelumnya, komoditas ini masih berada di kisaran harga Rp40 ribu per kg.

"Tiga-tiganya sama, (cabai) teropong merah, keriting merah, rawit harganya Rp80 ribu. Mungkin ini karena keterbatasan barang dari daerah penghasil, sementara permintaan dari masyarakat masih tinggi," ujar Rokayah, Kamis (8/10/2026).

Ditengah harga yang melambung, kualitas cabai yang beredar di pasaran justru menurun akibat faktor cuaca. Menurut Rokayah, rata-rata cabai yang dikirim saat ini kondisinya cenderung kering dan kurang segar.

Sayuran lain yang ikut melonjak tajam adalah brokoli. Jika dalam kondisi normal harganya berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kg, kini harga eceran brokoli tertahan di angka Rp30 ribu per kg.

Tingginya harga-harga ini diakui sangat memberatkan konsumen. Siti Ngainah, salah satu pembeli di Pasar Kota Boyolali, mengaku pengeluaran belanja sehari-harinya membengkak tajam. 

"Semua kebutuhan rasanya naik bareng semua, dari sembako sampai sayuran mahal semua," keluhnya.

Serupa dengan sayuran, tren kenaikan harga juga terjadi pada komoditas beras selama sebulan terakhir. Pedagang beras di Pasar Kota Boyolali, Sutiyem, memaparkan bahwa kenaikan terjadi merata di hampir semua kelas.

"Rata-rata naiknya seribu rupiah. Yang sebelumnya Rp13 ribu jadi Rp14 ribu, yang Rp14 ribu jadi Rp15 jadi, sama Rp15 ribu jadi Rp16 ribu per kg," jelas Sutiyem.

Saat ini, rentang harga beras di Pasar Kota Boyolali berada di kisaran Rp13 ribh hingga Rp19 ribu per kg. 

Beras premium kemasan menduduki harga tertinggi di angka Rp19 ribu per kg, kelas menengah di kisaran Rp16 ribu–Rp17 ribu per kg, dan beras paling murah adalah beras program SPHP seharga Rp13 ribu per kg.

Sutiyem menjelaskan, kemarau panjang dan serangan hama tikus menjadi biang keladi minimnya pasokan beras. 

Kekeringan membuat lahan pertanian tidak mendapat cukup pasokan air, sehingga sebagian besar petani memilih beralih menanam palawija seperti jagung yang lebih tahan cuaca panas.

"Karena tidak ada air, yang biasanya untuk padi sekarang ditanami jagung. Imbasnya pasokan beras yang masuk ke pasar jauh berkurang. Dulu biasanya disetor dua sampai tiga kuintal, sekarang satu kuintal saja barangnya jarang ada," ungkapnya.

Menghadapi situasi ini, para pembeli terpaksa menyesuaikan daya beli. Masyarakat maupun pelaku usaha kuliner mulai memutar otak agar tetap bisa mencukupi kebutuhan harian.

"Pedagang nasi goreng biasanya mengakali dengan mencampur beras kualitas menengah dan biasa. Sementara pembeli rumah tangga yang kebutuhannya banyak sering beralih ke beras SPHP yang Rp13 ribu itu. Bagi mereka, yang terpenting seluruh anggota keluarga tetap bisa makan," tuturnya.(fid)

Editor : Nur Pramudito
Sumber : Radar Solo
harga sayur Boyolali harga cabai Boyolali harga beras Boyolali harga cabai Rp80 ribu harga sembako Boyolali