RADARSOLO.COM-Tajamnya fluktuasi harga komoditas cabai di pasaran mendorong Dinas Pertanian (Dispertan) Boyolali menggalakkan program pasar lelang berbasis pemberdayaan petani milenial.
Terobosan ini terbukti efektif memangkas ketergantungan pada tengkulak sekaligus menjaga stabilitas harga jual di tingkat produsen.
Kepala Dispertan Boyolali Suyanta membeberkan bahwa pembentukan pasar lelang diarahkan agar penentuan harga sepenuhnya berjalan transparan mengikuti mekanisme pasar bebas.
Baca Juga: Kapan Gerhana Matahari Total Terlama 2027 Terjadi? Siap-siap, Siang Jadi Gelap Gulita hingga 6 Menit
"Melihat rekam jejak fluktuasi harga cabai di Boyolali yang bisa sangat mahal atau anjlok drastis, kami mendorong petani milenial untuk membuka pasar lelang. Dengan begitu, harga ditentukan oleh pasar, bukan didikte oleh segelintir tengkulak atau pedagang tertentu," jelas Suyanta di Balai Desa Manggis, Kecamatan Mojosongo, Selasa (13/10/2026).
Saat ini, harga jual cabai merah di tingkat eceran tembus Rp80 ribu per kilogram (kg).
Di sisi lain, harga di tingkat petani melalui mekanisme pasar lelang bertahan stabil di kisaran Rp48 ribu hingga Rp60 ribu per kg.
Selisih angka tersebut dinilai sebagai margin wajar untuk menutupi biaya operasional rantai distribusi dan margin pedagang.
Suyanta menguraikan, melonjaknya harga cabai di pasaran dipicu oleh kemarau panjang yang menggerus volume pasokan.
Kendati luasan lahan tanam di Boyolali tergolong luas, banyak petani mengalami kendala akibat serangan penyakit keriting daun.
Baca Juga: 187 Atlet Sukoharjo Bakal Tampil di Porprov Jateng 2026, Incar 15 Besar
"Banyak tanaman yang tidak berhasil (panen) karena serangan penyakit, terutama penyakit keriting daun. Kisaran lahan yang saat ini masih produktif mungkin tinggal sekitar 100-an hektare, dan itu pun lokasinya tersebar, tidak terpusat di satu kawasan," urainya.
Inisiatif panen raya yang dipadukan dengan fasilitasi pasar lelang ini mendapat apresiasi positif dari para petani lokal.
Bangun Restu Aji (26), petani cabai asal Kecamatan Mojosongo, merasakan langsung efisiensi dalam transaksi hasil panen.
"Program ini sangat bagus untuk petani. Penjualan menjadi lebih mudah, cepat, dan efektif. Sebelumnya, kami di tingkat petani kerap kesulitan mencari pengepul atau pembeli," ungkap Bangun.
Baca Juga: Sempat Diwarnai Ketegangan, Kasus Dugaan Penganiayaan Siswa SDN di Sragen Berakhir Damai
Selain memfasilitasi akses pasar, Dispertan Boyolali turut menyalurkan bantuan sarana produksi pertanian (saprodi) berupa benih unggul, plastik mulsa, serta pupuk secara langsung kepada para petani.
Bangun menceritakan, harga jual cabai dari lahan seluas 2.000 meter persegi miliknya mencapai Rp63 ribu per kg pada masa panen kedua ini.
Kendati demikian, ia mengaku harus mengkalkulasi modal secara ketat akibat melonjaknya biaya pasokan air bersih dan pupuk selama musim kemarau.
"Yang paling terasa hambatannya itu masalah cuaca, air sangat susah didapat. Sekali beli air, biayanya bisa mencapai Rp300 ribu, bahkan lebih. Kalau tidak cepat disiram, bunganya rontok dan hasil panen menjadi tidak maksimal," keluh Bangun.
Baca Juga: Resmikan Jalan di Jatiroto Wonogiri, Bupati Setyo Soroti Pembangunan Jembatan
"Alhamdulillah senang karena harga segitu sudah tergolong tinggi. Tapi karena harga pupuk sekarang juga ikut mahal, hasilnya jadi ngepres (pas-pasan) untuk diputar kembali sebagai modal beli pupuk," pungkasnya. (fid)
Editor : Tri Wahyu CahyonoSumber : Radarsolo.jawapos.com