Pohon natal berdiri di lobi hotel setempat. Tingginya sekitar 3 meter. Menggunakan 36 kilogram (kg) enceng gondok kering. Pohon Natal tersebut akan di-display hingga 5 Januari 2020.
“Enceng gondok biasanya dianggap gulma dan mengganggu. Biasanya dimanfaatkan untuk furniture atau tas anyaman. Ditambah dengan beberapa ornamen, di tempat kami bisa jadi pohon Natal,” ujar Public Relations The Royal Surakarta Heritage Hotel Indah Ayu Kusumastuti, kemarin (11/12).
Pemilihan enceng gondok bukan tanpa alasan. Sebab, tanaman yang hidup di air ini sering menyebabkan pencemaran lingkungan. Bahkan menyebabkan bencana banjir.
“Kami ingin mengusung isu lingkungan. Cara sederhana. Dengan pohon Natal dari enceng gondok. Kebetulan hotel kami men-support hal-hal yang berkaitan dengan ramah lingkungan,” bebernya.
Pengerjaan pohon Natal memakan waktu tiga hari. Sedangkan proses penjemuran enceng gondok sekitar seminggu. Pohon juga dihias lampu di dalam anyaman bambu. Di pucuk pohon Natal terpasang ornamen bintang, juga dari anyaman enceng gondok.
Perayaan Natal dan tahun baru berkonsep pedesaan. Seluruh program hingga dekorasi hotel bernuansa tradisional. Rencananya, area restoran bakal disulap seperti persawahan. Lengkap dengan saung-saung.
“Tamu hotel mayoritas datang dari luar Solo. Jadi kami dekorasi suasana khas Solo. Juga ada makanan tradisional. Mulai dari jajanan pasar sampai makan besar. Banyak wisatawan asing suka suasana tradisional,” jelasnya. (aya/fer) Editor : Perdana Bayu Saputra