“Kebijakan ini berdampak terhadap semua biro umrah dan jamaah umrah. Proyeksi kerugiannya sistemik, baik biro maupun jamaah. Dari data di Angkasa Pura 2019, ada lebih dari 94 ribu jamaah umrah dalam kurun waktu sembilan bulan terakhir. Berarti setiap bulannya ada 10 ribu jamaah berangkat ke Tanah Suci,” beber Ketua Persaudaraan Pengusaha Umrah dan Haji (Perpuhi) Her Suprabu kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.
Her mendengar kebijakan ini hanya berlaku sementara waktu. Namun jika selama sebulan kebijakan masih berlaku, maka sebanyak 10 ribu jamaah dipastikan gagal berangkat. Begitu seterusnya. Kendati bersifat force major, kebijakan ini mampu membuat travel agen merugi hingga Rp 2 miliar. Mulai dari maskapai pesawat dan hotel akomodasi satu grup berisi 45 jamaah.
“Harapannya semua pihak bisa memahami situasi ini. Misalnya, maskapai pesawat bisa rescheduling, jadi tidak hangus. Hotel juga bisa digeser ke tanggal lainnya setelah kebijakan ini dicabut. Akan terus kami lakukan negosiasi untuk itu,” sambungnya.
Saat ini, visa online sudah tidak beroperasi. Praktis semua pengajuan visa tidak diproses. Sementara untuk berangkat ke Tanah Suci, jamaah memerlukan visa. Setelah visa terbit, baru kemudian semua keperluan diproses. Her menyebut sampai saat ini dia masih menerima informasi yang simpang siur. Belum bisa dipastikan jamaah yang sudah memegang visa masih bisa berangkat atau tetap tertunda.
“Harapannya kalau visanya sudah terbit tetap bisa berangkat. Apalagi besok (Maret) kami ada jadwal pemberangkatan. Itu berdampak terhadap tiket dan hotel yang sudah kami pesan,” kata pria yang juga pemilik travel agen haji dan umrah ini.
Terdekat, Her akan memberangkatkan lima grup jamaah umrah pada 5, 6, dan 14 Maret mendatang. Jumlahnya 250-300 jamaah. Dia berharap jamaah pada 5 Maret sudah memegang visa. Saat ini pihaknya sudah berkoordinasi dengan maskapai pesawat agar masih bisa diterbangkan.
“Tapi ini masih simpang siur. Karena ada yang bilang tidak bisa. Tidak diterima di Arab. Ini terus kami koordinasikan dengan semua stakeholder. Agar lebih valid infonya. Saat ini, kami masih ada 111 jamaah masih berada di Arab Saudi. Mereka berangkat 22 Februari lalu. Dan menurut mereka di sana tidak ada masalah. Ibadah seperti biasa. Lancar, tidak ada hal-hal yang mengganggu,” imbuhnya.
Her berharap agar Kementerian Agama (Kemenag) melakukan negosiasi ke Pemerintah Arab Saudi. Agar kebijakan ini tidak diberlakukan terhadap semua negara. Termasuk Indonesia, yang belum berpotensi penyebaran virus korona.
Sementara itu, kebijakan ini belum berdampak di Bandara Adi Soemarmo Solo. Bandara yang memiliki jadwal penerbangan langsung Solo-Madinah sampai kemarin masih berjalan normal.
“Penerbangan umrah dari Bandara Adi Soemarmo sampai hari ini (kemarin) masih operasional normal. Kami masih menunggu instruksi resmi dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terkait penghentian penerbangan ke Arab Saudi,” ungkap Airport Operation and Safety Senior Manager PT Angkasa Pura I Bandara Adi Soemarmo Goentoro. (aya/bun/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra