"Tapi banyak pihak yang masih menutup mata. Belum ada yang menggarap pelaku UMKM disabilitas ini dengan serius," ungkap Senior Media Relations Manager JD.ID Adhi Pratama kepada Jawa Pos Radar Solo, belum lama ini.
Marketplace tersebut mengadakan pelatihan bersama 34 UMKM disabilitas di Rumah Pelayanan Sosial Disabilitas Sensorik Netra (RPSDSN) Bhakti Candrasa. Saat ini, pihanya tengah fokus dalam memberikan pembekalan bagi UMKM disabilitas.
Menurutnya, kendala pelaku UMKM disabilitas adalah keterbatasan mereka, yang membuat kesulitan mendapatkan akses. Selain itu, mayoritas pelaku UMKM disabilitas kurang percaya diri dalam memasarkan produknya. Padahal jiwa kewirausahaan mereka tidak kalah tinggi dibandingkan pelaku UMKM lainnya.
"Maka edukasi yang perlu dilakukan tidak hanya pada cara pemasaran produk secara teknis. Tapi terpenting mengangkat mental dan psikis mereka. Karena kemauannya ada, sehingga rasa percaya diri mereka yang perlu diangkat," jelasnya.
Adhi menyebut, pihaknya telah fokus membantu UMKM disabilitas terdampak sejak awal pandemi. Bentuk prioritasnya, dengan membantu mereka menjual produk di platform digital dan memberikan edukasi pemasaran online.
"Antusiasme peserta bagus. Mereka mayoritas sudah punya produk. Hanya tinggal pembinaan yang berkala dan berkelanjutan. Tujuannya, pengembangan pelaku UMKM disabilitas," sambungnya.
Chief Financial Officer JD.ID Sandy Permadi mengatakan, semua pihak berkewajiban untuk bersinergi dengan pemerintah dalam merangsang pertumbuhan ekonomi nasional. Contohnya, dengan memotivasi, mempersiapkan atau melatih, dan membantu pelaku UMKM sebagai salah satu aktor penggerak ekonomi.
"Khususnya UMKM milik komunitas penyandang disabilitas yang selama ini belum mendapatkan porsi atensi dan kesempatan yang cukup dalam usaha pertumbuhan ekonomi bangsa," pungkas Sandy. (aya/ria) Editor : Perdana Bayu Saputra