Langkah berani diambil oleh Sulanjari, penjual bakso asal Dusun Cemetuk, Desa Lorog, Kecamatan Tawangsari, Sukoharjo. Awal pandemi 2020 lalu, dia justru mengubah menu baksonya menjadi tidak biasa. Perempuan 38 tahun ini memadukan bahan-bahan buah dan sayur untuk bahan campuran baksonya. Hasilnya, baksonya memiliki warna yang menggugah selera.
Sulanjari telah berjualan bakso di rumahnya Desa Lorog, sejak 2013 lalu. Awalnya, ibu dua anak ini berjualan bakso, dengan bentuk layaknya penjual bakso pada umumnya. Yakni bakso bulat dilengkapi tetelan lemak dan kikil sapi.
Sulanjari tentu ingin usahanya selalu jadi buah bibir, dan pelanggan baru atau lama tetap berdatangan. Akhirnya dia membuat banyak menu-menu yang tak biasa di warungnya.
Bagi yang sedang patah hati, Sulanjari ternyata menyediakan menu nyeleneh bernama bakso kuburan mantan. Baksonya berbentuk persegi panjang. Lengkap dengan nisan bertuliskan RIP Mantan. Bakso ini lain dari yang lain, karena di dalam baksonya ada sosisnya, sehingga bentuknya kotak. Serta bagi anak-anak, Sulanjari juga menyediakan varian bakso karakter. Ada karakter boneka Teddy Bear dan bentuk kura-kura.
"Dalam setiap penyajian, biasanya dua mangkok. Satu mangkok untuk bakso variannya dan satu mangkok untuk kuah, mi, bihun, sayuran sawi, toge, bakso biasa, dan tetelan. Jadi tetap ada bakso biasanya dalam setiap sajian," katanya.
Bakso bikinannya banyak yang berukuran jumbo. Banyak varian menu yang ditawarkan. Seperti bakso buah naga, yakni campuran antara daging sapi, daging ayam dan buah naga. Tampilan bakso menjadi berwarna ungu muda yang tentunya menggugah selera.
"Bakso buah naga ini saya hanya mengambil warnanya saja, soal rasanya ya tetap daging seperti bakso biasanya. Jadi hanya warnanya saja yang ungu," terangnya.
Ada juga menu bakso bayam. Seperti bakso pada umumnya, namun dalam adonan daging ditambahkan bayam, yang tak banyak penjual menggunakan racikan menu seperti itu. Sehingga, warnanya menjadi hijau. Selain lezat menggugah selera, tentunya juga bergizi.
"Dalam setiap menu bakso, karena jumbo, di dalamnya ada isinya. Yakni tetelan daging dan telur puyuh," terangnya.
Ada lagi yang lebih spektakuler dalam menu bakso buatannya. Menu ini diperuntukkan bagi penyuka masakan pedas. Yakni, bakso kawah. Bakso di dalamnya terdapat sambal, masih ditambah toping sambal dalam penyajiannya. Dipastikan, rasa bakso kawah ini bakal menampar lidah saking pedasnya.
"Kami juga punya menu bakso seberat 1,5 kilogram. Baksonya super besar. Isinya empat telur ayam, puluhan gelindingan bakso biasa, dan tetelan lemak daging sapi. Satu porsi bisa dimakan enam sampai delapan orang. Tapi harus pesan dulu, karena tidak setiap hari bikin. Harganya juga sedikit lebih mahal Rp 80 ribuan," terangnya.
Yang unik adalah bakso mangkok. Penikmat bakso bisa memakan habis mangkoknya, karena mangkok nya dari bakso juga. Dan yang menjadi best seller di warung baksonya adalah bakso iga. Dimana penyajiannya, iga yang dibungkus dengan bakso. Tampak ada tulang iga yang menyumbul keluar dari gelindingan bakso.
"Paling laris ya bakso iga. Tidak sampai siang sudah habis," katanya.
Warung bakso Sulanjari terletak di tengah perkampungan, sekitar 500 meter dari Jalan Raya Tawangsari-Weru. Namun, warung baksonya selalu ramai pengunjung karena harganya yang murah, bahkan sampai dengan masa pandemi dengan segala macam kebijakan pembatasannya.
"Kalau hari biasa 40 kilo. Kalau hari libur bikin 50 kilo. Buka jam 9 pagi, jam 2 siang sudah habis," ungkapnya.
Sulanjari mengaku warungnya tidak begitu terdampak PPKM, karena sejak awal pandemi dia mengambil langkah berani. Saat itu, justru menu baksonya ditambah dengan berbagai macam varian. Justru karena itu, pelanggan tetap berdatangan dari segala penjuru. Mulai dari goweser, TKI yang pulang kampung, ibu-ibu, hingga anak-anak muda.
"Awalnya hanya bikin satu-satu saja menu, lalu diposting di media sosial. Ternyata banyak yang suka, akhirnya bikin lagi," bebernya. (kwl/nik/dam) Editor : Damianus Bram