Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Kelangkaan Kontainer Ganjal Ekspor Kayu Ringan

Tri wahyu Cahyono • Rabu, 3 November 2021 | 04:23 WIB
EKSPORTER KAYU: Event Indonesian Lightwood Coorperation Forum (ILCF) kelas di Novotel Hotel Solo, Senin malam (1/11/2021). (SEPTINA FADIA PUTRI)
EKSPORTER KAYU: Event Indonesian Lightwood Coorperation Forum (ILCF) kelas di Novotel Hotel Solo, Senin malam (1/11/2021). (SEPTINA FADIA PUTRI)
RADARSOLO.ID-Pasar ekspor kayu ringan mulai menggeliat. Demand cukup besar terjadi di beberapa negara. Salah satunya ke Amerika. Namun ada kendala yang perlu segera disikapi. Yakni kelangkaan kontainer untuk mengirim kayu ringan dari Indonesia ke negara-negara dengan demand tinggi.

"Solusi yang kami lakukan, para eksporter dari Indonesia sekarang sudah mengirim kayu ringan tanpa kontainer. Barangnya dimasukkan ke dalam kapal, kemudian diangkut. Memang secara cost, jauh lebih murah. Tapi belum semua negara menerima konsep itu. Pengiriman tanpa kontainer," beber Ketua Umum Indonesian Lightwood Association (ILWA) Setyo Wisnu Broto dalam event Indonesian Lightwood Coorperation Forum (ILCF) kelas di Novotel Hotel Solo, Senin malam (1/11/2021).

Hanya satu negara yang bisa menerima pengiriman barang tanpa kontainer, Amerika Serikat. Kebutuhan barang yang sangat tinggi membuat negara tersebut tidak bisa menunggu sampai kontainer bisa tercukupi. Padahal Wisnu menyebut, selama ini pasar ekspor juga banyak menyasar negara-negara Eropa. Jepang dan Taiwan juga sudah mulai tumbuh demand-nya.
"Tiongkok sekarang justru berkurang. Dulu di sana sempat mendominasi. Sekarang tidak lagi," sambungnya.

Wisnu mengatakan, pascapandemi Covid-19, para eksporter sudah mulai banyak mengirim barang. Namun karena keterbatasan kontainer, proses pengiriman tidak lagi semudah dulu.

Menurutnya, ketidakseimbangan pertumbuhan ekonomi dari tiap negara juga jadi salah satu penyebab kelangkaan kontainer. Ambil contoh, Tiongkok adalah negara yang mengalami recovery pascapandemi paling awal. Sementara di Eropa belum terjadi recovery, sehingga kontainer yang berangkat ke Eropa tidak bisa kembali lagi ke negara lain.

"Sama juga di negara-negara yang secara pandemi masih tinggi waktu itu, di sana tidak ada yang bongkar muat kontainer. Akhirnya tertahan di sana. Itulah ketidakseimbangan dunia soal recovery ekonomi menyebabkan kondisi kontainer tidak bisa pulang pergi dalam kondisi isi semua. Sering sekali kami kirim ke Eropa. Tidak balik kontainernya. Karena tertahan di sana," beber Wisnu.

Koordinator Wilayah Amerika dan Eropa Direktorat Jenderal Kerjasama Pengembangan Ekspor Kementerian Perdagangan (Kemendag) Singgih Sugiyanto membenarkan fenomena kelangkaan kontainer ini.
Kondisi tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia. Tapi seluruh negara di dunia. Penyebabnya, keterbatasan jumlah tenaga kerja bongkar muat kontainer.

"Tadinya ada 100 orang yang bisa membongkar. Tapi karena ada pembatasan kegiatan selama pandemi, yang bekerja hanya 50 orang. Ini yang menghambat proses bongkar muat kontainer. Misalnya ada 100 kontainer yang bisa kita bongkar dan muat, sekarang hanya bisa separo," jelasnya.

Namun pihaknya mengapresiasi solusi para eksporter dengan mengirim barang tanpa kontainer. Dia mengingatkan para eksporter tetap wajib memperhatikan packaging barang yang diangkut ke dalam kapal agar proses pengiriman tidak merusak barang.

"Jumlah ekspor saat ini secara angka menunjukkan peningkatan. Ini yang kami terus dukung untuk produk kayu ringan ke depannya. Dengan kerja sama berbagai pihak. Berkolaborasi agar produk dari Indonesia dapat diterima di Pasar Eropa," pungkasnya. (aya/wa)
Editor : Tri Wahyu Cahyono
#Ketua Umum Indonesian Lightwood Association (ILWA) Setyo Wisnu Broto #ekspor kayu ringan #Indonesian Lightwood Coorperation Forum (ILCF) #kontainer ekspor langka