"Pesantren tidak hanya tempat untuk ngaji fikih, tapi juga “ngaji” sugih. Hal tersebut penting untuk menjadikan pesantren sebagai ekosistem yang mandiri dan sejahtera, sehingga dapat berkontribusi pada pemulihan ekonomi nasional," ungkap Kepala Bank Indonesia (BI) Solo, Nugroho Joko Prastowo kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (17/5).
Peran pesantren juga dilibatkan dalam salah satu pilar cetak biru pengembangan ekonomi dan keuangan Syariah, yaitu penguatan ekonomi syariah melalui program peningkatan kelembagaan yang salah satunya melalui kemandirian ekonomi pesantren.
Joko menyebut ada tiga prasyarat kemajuan bisnis ekonomi dan keuangan pesantren dengan pendekatan manajemen ekonomi dan bisnis modern.
“Pertama, keuletan dan daya tahan. Kedua, memperkuat jejaring atau silaturahmi bisnis antara lain melalui Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pesantren (Hebitren),” ucapnya.
Berikutnya ketiga, memperkuat pengetahuan dan pemberdayaan ekonomi ponpes melalui ekosistem rantai nilai halal. Pengembangan ekosistem rantai nilai halal difokuskan kepada lima sektor prioritas, yaitu pertanian terintegrasi, halal food, halal fashion, energi baru dan terbarukan serta pariwisata ramah muslim.
"Nah, pengembangan ekosistem rantai nilai halal di Solo dan sekitarnya yang sedang berjalan saat ini salah satunya di sektor perikanan, pertanian, dan kuliner melalui Hebitren. Ini merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap program pesantrenpreneur untuk mendorong kemandirian ekonomi pesantren dan mengerakkan ekonomi kerakyatan," jelas Joko.
Inovasi budidaya perikanan dengan sistem bioflok dan pertanian berbasis teknologi greenhouse Hebitren Solo dan sekitarnya menjadi upaya penguatan nilai tambah usaha pondok pesantren. Harapannya dapat direplikasi oleh pesantren lainnya. (aya/wa/dam) Editor : Damianus Bram