“Kami sering mengirim topeng batik kayu ke Amerika dan Kanada. Yang paling mudah dan banyak peminatnya memang ke Jepang. Tapi seperti Korea, Malaysia, dan Singapura juga banyak permintaannya. Negara yang potensinya bagus sebenarnya Rusia. Tapi ini belum kami lanjutkan karena masih kondisi perang," ungkap Sujiman, perajin topeng batik kayu sekaligus pemilik UKM Karya Manunggal Sujiman saat monitoring Lembaga Pengabdian dan Penelitian Masyarakat (LPPM) Universitas Sebelas Maret (UNS) di Gunung Kidul, DIJ, baru-baru ini.
Orderan topeng batik kayu dari pasar ekspor tercatat bisa mencapai Rp 200 juta per bulan. Namun jika dirata-rata, nilai ekspor di beberapa negara tersebut sekitar Rp 80-100 juta.
Sujiman mengakui nilai ekspor itu tergolong masih kecil. Sebab dirinya terkendala proses pengiriman yang belum bisa menggunakan kontainer sendiri. Produk yang diekspor Sujiman masih nebeng produk mebel lain yang dikirim ke negara tujuan yang sama.
"Kan banyak itu yang mengirim mebel, seperti lemari. Nah, produk kami ikut pengiriman lemari itu. Dimasukkan dalam lemari. Karena kalau produk saya sendiri untuk satu kontainer, saya tidak mampu. Untuk memenuhi kualitas standar ketentuan ekspor sangat sulit. Dari 800 produk yang saya buat, hanya 25 persen yang lolos pengiriman. Saya hitung-hitung, selama enam bulan pun, produk saya belum bisa memenuhi satu kontainer," jelasnya.
Menjawab permasalahan itu, tim pengabdian masyarakat UNS melalui Program Pengembangan Produk Unggulan Daerah (PPPUD) sejak 2020 mendampingi UKM di Desa Putat, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, DIJ yang sempat mati suri imbas pandemi.
Ketua LPPM UNS Okid Paramadina Astirin menyebut, berbagai upaya telah dilakukan tim PPPUD untuk membantu UKM agar tetap survive di tengah lesunya permintaan produk karya seni imbas pandemi.
“Sejak 2020 silam, UNS telah mengucurkan anggaran senilai Rp 148 juta untuk kegiatan pendampingan ini. Termasuk pengadaan alat dan mesin yang memudahkan perajin, sekaligus menunjang produksi. Dianggarkan sekitar Rp 15 juta per tahun," ujarnya.
Upaya pertama yang dilakukan oleh tim PPPUD adalah melakukan diversitas desain topeng. Tujuannya, meningkatkan nilai fungsi, nilai estetika, dan nilai ekonomi dari produk kerajinan topeng.
Pengembangan diversitas produk tidak dapat dilakukan secara spontan. Maka tim memberikan materi pendampingan soal proses penggalian ide pengembangan produk. Harapannya, meningkatkan pengetahuan UKM dan menuju modernisasi topeng.
"Program pengabdian ini bertujuan memperkaya diversitas desain topeng, serta membantu UKM agar dapat memproduksi topeng yang siap ekspor," sambung Ketua Tim PPPUD Slamet Subiantoro.
Pendampingan yang tak kalah penting adalah soal Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Slamet mengatakan para perajin wajib memahami bahwa produk karya inovasi seni yang dihasilkan harus dilindungi oleh hukum. Agar kelak di kemudian hari tidak terjadi plagiarism, bahkan diklaim oleh pihak lain.
Selama hampir tiga tahun pendampingan, sudah ada lima hak cipta dan dua desain industri didaftarkan.
"Ini tahun ketiga, sudah banyak desain yang kami daftarkan. Dalam waktu dekat, ada lima hak cipta desain yang kami daftarkan lagi untuk landasan pengamanan karya seni," pungkasnya. (aya/wa) Editor : Damianus Bram