Itu diungkapkan Kepala Dinas Perdagangan Kota Surakarta Heru Sunardi, kemarin (1/9). “Harga telur sekarang masih tinggi. Jadi penyumbang inflasi. Tapi kalau lihat trennya, ini sudah terjadi penurunan (harga). Di pasar sudah di angka Rp 27.500-Rp 28 ribu per kilogram (kg). Prediksi kami, nanti setelah penyaluran program keluarga harapan (PKH) dan BPNT (bantuan pangan nontunai) selesai, harga telur akan kembali normal," papar dia.
Menurut Heru, harga telur melonjak lantaran banyak permintaan dari warung-warung PKH yang menyalurkan paket pangan BPNT, sehingga permintaan telur meningkat. Yang diikuti dengan kenaikan harga jika jumlah barang tidak bertambah.
"Nanti sebelum masuk minggu kedua September, kami prediksi sudah turun lagi harganya (telur). Tapi beda cerita kalau harga BBM naik. Karena infonya solar akan naik harga. Nah, solar ini kan penentu pergerakan barang dan manusia. Pasti berdampak kalau harganya naik. Tapi kalau melihat tren kondisi harga telur saat ini, sudah berangsur-angsur menurun," terangnya.
Selain telur, harga komoditas yang sedang tinggi adalah daging. Heru menyebut kenaikan harga ini disebabkan mekanisme pasar. Karena penawaran dan permintaan. Dia optimistis harga daging juga menyusul melandai mengikuti harga telur.
“Pesan saya kepada konsumen, kalau ada salah satu harga komoditas yang tinggi, kan ada keragaman pangan yang bisa dipilih. Cari protein tinggi pengganti telur dengan harga lebih rendah. Jadi ada diversifikasi pangan dengan kandungan yang sama. Sebagai solusi untuk mengatasi harga yang naik," pungkasnya. (aya/wa/dam) Editor : Damianus Bram