Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Upaya Pelestarian Batik Nusantara, Patenkan Tiga Motif

Damianus Bram • Minggu, 25 Desember 2022 | 18:00 WIB
INOVATIF: Izza Mafruhah (kanan) perlihatkan batik motif edi tirto kreasinya bersama tim yang sudah mendapat hak paten HAKI. (DOK. PRIBADI)
INOVATIF: Izza Mafruhah (kanan) perlihatkan batik motif edi tirto kreasinya bersama tim yang sudah mendapat hak paten HAKI. (DOK. PRIBADI)
RADARSOLO.ID - Dosen ekonomi biasanya berkutat dengan angka. Tapi berbeda dengan profesor bidang ekonomi salah satu kampus di Kota Solo Izza Mafruhah. Tiga motif batik kreasinya sudah dipatenkan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI).

Siapa sangka, Izza yang berprofesi sebagai dosen justru memiliki karya berupa tiga motif batik. Bahkan motif batik itu sudah dipatenkan Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI). Tiga motif batik yang dipatenkan guru besar bidang ekonomi pembangunan Universitas Sebelas Maret (UNS) ini, dinamai benteng pendem, waduk pondok, dan edi tirto.

Ketiga motif batik ini diilhami dari kekhasan daerah masing-masing. Motif batik benteng pendem dan waduk pondok, terinspirasi dari ikon di Kabupaten Ngawi, Jawa Timut. Sedangkan motif edi tirto, tercetus dari ciri khas Kabupaten Sragen.

“Awalnya dari penelitian dan pengabdian masyarakat bersama grup riset. Saya dan tim berinisiatif membuatkan batik, dengan motif khas daerah yang diteliti. Dalam falsafah Jawa ada ungkapan, ajining raga saka busana. Artinya kehormatan badan dilihat dari busananya,” ungkap Izza.

Dari sinilah Izza mulai tertarik membuat motif batik. Sekaligus ingin mengangkat daerah-daerah di Indonesia melalui batik.

“Saya mengembangkan motif batik dengan konsep HEBAT. Singkatan dari heritage, ecology, batik, agriculture, and tourism. Melalui konsep tersebut, saya berusaha merekam kekhasan suatu daerah dari segi peninggalan sejarah, ekologi, batik, pertanian, dan pariwisata,” imbuhnya.

Batik motif waduk pondok dan benteng pendem, lanjut Izza, dibuat dengan teknik khusus. Melalui padu pada batik tulis dan cetak. Dibuat dengan malam dingin. Keuntungan teknik ini, motif batiknya berbentuk timbul seperti batik tulis. Namun pengerjaannya lebih cepat, lantaran dicetak menggunakan malam dingin.

Ditanya soal motif batik edi tirto, Izza mengaku dan timnya memadukan burung branjangan. Burung khas Sragen dengan Waduk Kedung Ombo (WKO). Termasuk peninggalan purbakala di Museum Sangiran.

Selain itu, motif batik yang dinamakan edi tirto itu juga dilengkapi gambar humus serta batang gabah. Perlambang kemakmuran dan kesuburan Bumi Sukowati. Sesuai dengan fakta, bahwa Sragen merupakan penghasil padi terbesar ketiga di Jawa Tengah.

“Ada tulisan Memayu Hayuning Bawana di motif batik edi tirto. Artinya mempercantik bumi yang sudah cantik,” urainya.

Soal produksi batik, Izza dan tim mempercayakan kepada para usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Sragen. Dia sengaja tidak bekerja sama dengan pabrik besar, karena ingin mengangkat potensi perajin batik daerah. Supaya tumbuh dan dikenal lebih luas.

Kini, batik motif ciptaannya sudah dilirik banyak konsumen. Bahkan motif batik edi tirto dijadikan seragam di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS.

“Saya berharap motif batik tersebut dapat membawa kebermanfaatan untuk banyak pihak. Seperti UNS, pemerintah daerah, dan masyarakat umum,” uajrnya. (aya/adi) Editor : Damianus Bram
#haki #motif batik #Izza Mafruhah #Pelestarian Batik Nusantara #Patenkan Motif Batik