Memasuki usia 2 tahun, BSI telah menjadi market leader dalam industri keuangan syariah di Indonesia. Baik dari sisi jaringan, customer based, hingga capital untuk dapat melayani umat dan nasabah.
”Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di Indonesia, kami terus mengoptimalkan potensi pengembangan islamic ecosystem dalam negeri. Mulai dari peningkatan literasi keuangan syariah, menyasar ekosistem Ziswaf, masjid, pendidikan, kesehatan, dan industri manufaktur lainnya," beber Direktur Utama BSI Hery Gunardi dalam paparan kinerja BSI via Zoom, kemarin.
Hery mengatakan, pencapaian ini membuktikan strategic response BSI yang tepat untuk meraih pertumbuhan bisnis yang sehat, penghimpunan dana masyarakat, menjaga sustainability pertumbuhan yang fokus pada aspek likuiditas terutama pertumbuhan dana murah, serta menjaga kualitas aset. Pertumbuhan laba perseroan diiringi dengan meningkatnya aset BSI sebesar Rp 305,73 triliun. Tumbuh 15,24 persen secara tahunan.
"Selain itu, juga ditopang oleh pertumbuhan bisnis yang sehat dari segmen retail dan wholesale. Didukung juga oleh peningkatan dana murah, kualitas pembiayaan yang baik, efisiensi, dan efektivitas biaya dan fee based income (FBI)," sambungnya.
Peningkatan laba bersih juga didorong oleh pencapaian kinerja penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 261,49 triliun. Tumbuh 12,11 persen secara tahunan. Pembiayaan juga tumbuh 21,26 persen secara tahunan menjadi Rp 207,70 triliun. Kualitas pembiayaan terjaga, tercermin dari NPF Gross di level 2,42 persen, serta peningkatan fee based income BSI Mobile mencapai Rp 251 miliar, tumbuh 67 persen secara tahunan.
"Hingga Desember 2022, total pembiayaan BSI mencapai Rp 207,70 triliun. Porsi pembiayaan didominasi oleh pembiayaan konsumer sebesar Rp 106,40 triliun, tumbuh 25,94 persen secara tahunan. Dilanjutkan pembiayaan wholesale sebesar Rp 57,18 triliun, tumbuh 15,80 persen secara tahunan. Disusul pembiayaan mikro yang mencapai Rp 18,74 triliun, tumbuh 32,71 persen secara tahunan," jelasnya.
Di samping itu, meningkatnya pemahaman literasi keuangan syariah di Indonesia juga diklaim menjadi pendorong pertumbuhan kinerja dan efektivitas layanan digital. Keduanya mampu menjangkau nasabah sesuai segmen. Capaian ini merupakan apresiasi bagi BSI atas kepercayaan nasabah terhadap kinerja positif industri perbankan syariah di Indonesia.
"Ke depan, perseroan secara kontinu akan lebih agile untuk mewujudkan BSI menjadi top 5 di pasar domestik dan top 10 di level global," imbuhnya.
Dari sisi likuiditas, lanjut Hery, BSI mencatat perolehan DPK BSI mencapai Rp 261,49 triliun. Didominasi oleh tabungan wadiah mencapai Rp 44,21 triliun. Berada di peringkat kelima tabungan secara nasional. Dengan jumlah nasabah BSI mencapai 17,78 juta orang. Pencapaian ini memberikan pengaruh positif terhadap rasio cost of fund (CoF) BSI menjadi 1,62 persen.
"BSI optimistis kinerja positif pada 2022 akan terus berlanjut pada 2023. Apalagi perseroan fokus untuk membangun Islamic Ecosystem dan memperkuat Ziswaf untuk kepentingan umat. BSI siap membawa babak baru industri keuangan syariah melalui business model layanan keuangan, sosial dan spiritual yang dapat menjawab segala kebutuhan nasabah," tandasnya. (aya/nik/dam) Editor : Damianus Bram