"Harga normalnya dikisaran Rp 26 ribu per kg. Meskipun ini sudah turun, tapi harga masih tetap tinggi," ungkap Kepala Dinas Perdagangan Kota Surakarta Heru Sunardi, Selasa (6/6/2023).
Penurunan harga ini disebut Heru sudah terjadi sejak pekan lalu. Kenaikan harga telur ayam terjadi karena dua hal, yakni kenaikan harga pakan ternak seperti jagung dan kenaikan harga bibit ayam.
"Kalau harga pakan ternak dan bibit ayam turun, maka harga telur ayam juga bisa kembali normal. Tapi kami juga tidak mampu menjangkau kenaikan harga komoditas pakan maupun harga bibit ayam itu. Sejauh ini yang penting kami memastikan stok ada, komoditas telur ayam tidak langka," bebernya.
Sebelumnya, Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (Pinsar) Jawa Tengah Parjuni mengatakan kenaikan harga telur ayam dipicu oleh sejumlah faktor, salah satunya berkurangnya populasi indukan ayam petelur. Peremajaan indukan ayam mengalami keterlambatan, karena tahun lalu peternak mengalami kerugian. Kondisi ini terjadi sejak 2021.
"Jadi meskipun di akhir 2022 mengalami keuntungan, peternak belum siap melakukan peremajaan indukan. Akibatnya, berpengaruh pada menurunnya jumlah telur yang diproduksi oleh indukan ayam," jelasnya.
Faktor lainnya, selaras dengan yang disebut Heru, adalah kenaikan harga pakan ternak, yakni komoditas jagung. Parjuni mengungkapkan sebelumnya harga jagung sekitar Rp 4 ribu per kg. Saat ini naik menjadi sekitar Rp 6 ribu per kg. Imbasnya, pada harga pokok penjualan (HPP) di tingkat peternak mengalami kenaikan.
"Jadi peternak harus menjual telur di atas harga Rp 25 ribu per kg," ujarnya.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Surakarta mencatat inflasi di Kota Bengawan sebesar 0,19 persen pada Mei ini. Telur dan daging ayam ras jadi komoditas penyumbang inflasi. Ditambah kenaikan harga pada beberapa komoditas lainnya, seperti bawang putih, bawang merah, tomat, dan jeruk. (aya/nik/dam) Editor : Damianus Bram