Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Maraknya Toko Kelontong Madura 24 Jam, Bangkitnya Ekonomi Lokal

Silvester Kurniawan • Senin, 31 Juli 2023 | 14:30 WIB
Toko kelontong Madura yang buka 24 jam mulai bersebaran di Kota Solo dan sekitarnya.
Toko kelontong Madura yang buka 24 jam mulai bersebaran di Kota Solo dan sekitarnya.

RADARSOLO.COM - Fenomena maraknya toko kelontong Madura lebih dulu terlihat di kota-kota besar sebelum masuk ke Kota Bengawan. Ekspansi bisnis warung Madura itu merupakan hal yang baik untuk memperkuat ekonomi kerakyatan. Sebab, Suku Madura merupakan salah satu suku di Indonesia yang paling memahami peluang bisnis.

“Jauh sebelum model toko kelontong ini muncul di berbagai daerah, kawan-kawan Madura ini lebih dulu memulainya dengan jenis usaha lain. Dari kuliner misalnya, ada soto dan sate, kemudian ada jasa cukur rambut, sampai akhirnya merambah bisnis retail seperti ini. Karena ini jaringan retai lokal saya melihat ini sebagai hal positif,” ujar Anton Agus Setyawan, pengamat ekonomi dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Dari segi bisnis, toko kelontong Madura tentu menerapkan sistem bisnis yang berbeda dengan toko retail modern. Sebab, mereka mengutamakan unsur kekeluargaan dan identitas kesukuannya. Ini salah satu cara untuk membantu sesama, khususnya mereka yang berasal dari daerah yang sama untuk menguatkan unsur kelokalan mereka.

Ini bisa dibuktikan dari latar belakang yang sama antara pemilik toko dengan pegawai yang dipekerjakan. Hal ini serupa dengan jejaring bisnis Madura yang lain seperti cukur rambut dan sebagainya di mana pegawai yang biasanya merantau itu dipekerjakan sampai nanti akhirnya bisa membuka tokonya secara mandiri.

“Beberapa etnis tertentu di Indonesia itu kan memang jejaringnya kuat, termasuk Suku Madura ini,” ujar dia.

Anton bercerita, pada 1980 silam, saat cukur rambut jadi salah satu bisnis utama orang Madura di Solo itu ada kelompok pengajian yang semuanya tukang cukur Madura. Mereka yang sukses atau dianggap senior itu kemudian memberikan pelatihan-pelatihan kepada kerabatnya atau sesama orang Madura yang datang ke wilayah tersebut.

“Dulu itu ada orang-orang yang menyediakan pelatihan sampai akhirnya bisa menjadi karyawan untuk dipekerjakan di suatu lokasi cukur rambut milik orang Madura. Jika sudah mampu mereka akan jadi rekanan bisnis untuk dimodali agar bisa membuka jasa cukur secara mandiri. Saya pikir toko kelontong ini juga begitu,” papar Anton.

Dia melihat fenomena itu sebagai hal positif karena mampu bersaing dengan retail-retail asing yang saat ini masuk ke segala lini kehidupan masyarakat. Toko kelontong Madura ini mengambil posisi sebagai pesaing retal-retail asing tersebut. Sebab, bisa memperkuat ekonomi lokal. Secara sadar mereka bersaing bukan hanya dari segi harga namun juga dari kelengkapan jenis barang yang diperjualbelikan hingga pelayanan nonstop yang dibranding lewat istilah 24 jam tersebut.

Tentu jejaring bisnis toko kelontong Madura ini juga akan berdampak kepada pengusaha lokal di wilayah tersebut. Akhirnya ekonomi lokal yang dikenal dengan istilah UMKM ini akan bergerak karena akan bersinggungan dengan pemasok dan sebagainya di wilayah sekitar.

Dari segi konsumen ini tentu menguntungkan. Selain harga yang bersaing dan cenderung lebih murah jika dibandingkan dengan toko modern, konsumen bisa mengakses barang retail dengan lebih lengkap dan bisa diakses 24 jam. Apalagi
di beberapa kota lainnya toko kelontong Madura ini kadang juga dilengkapi degan barang-barang untuk kebutuhan sandang.

“Tentu mereka akan lebih fleksibel ketimbang toko modern. Saya kira ini perlu didukung karena perputaran uang tidak hanya beredar di pengusaha yang memiliki modal besar tapi juga bisa lebih merata,” tutur Anton. (ves/bun)

Editor : Damianus Bram
#warung kelontong madura #toko kelontong madura 24 jam #Pengamat Ekonomi UMS Anton Agus Setyawan #toko kelontong