RADARSOLO.COM - Melonjaknya harga gula saat ini terjadi bukan tanpa alasan. Pasokan tebu yang semakin berkurang ditengarai telah mengerek harga jual dan gula di pasaran.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Sragen Parwanto mengatakan, ada penurunan produktivitas tebu di petani sekira 40 persen dibanding tahun sebelumnya.
"Katakanlah tahun kemarin kami produksi 2 juta ton tebu, tahun ini prediksi saya hanya 1,6 juta ton tebu maksimalnya," kata dia saat dihubungi Jawa Pos Radar Solo, kemarin (11/11).
Sejak awal September lalu, Parwanto menyebut, panen tebu telah selesai dilakukan. Sementara untuk panen berikutnya, diperkirakan akan terjadi pada Mei tahun depan.
Dia tak memungkiri, adanya kemarau panjang juga memengaruhi tunas tebu yang ditanam. Banyak tunas tebu yang mati, sehingga dia menduga jumlah panen berikutnya tidak jauh berbeda dengan hasil panen sekarang.
"Banyak yang mati (tunas tebu), ditambah petani kemarin kan juga rugi karena produksi turun sampai 40 persen. Karena untuk biaya operasional tahun ini, petani tidak ada kemampuan (biaya) untuk membongkar kembali," imbuh dia.
Adanya isu krisis pangan dunia usai era Covid-19 juga berpengaruh pada kenaikan harga gula. Terlebih, harga gula dunia saat ini juga semakin melonjak tinggi. Pada tahun ini komoditas gula memang drastis mengalami kenaikan signifikan.
"Apalagi hampir semua negara saat ini memproteksi tidak melakukan ekspor, karena ingin melindungi bahan pangan untuk warganya masing-masing. Dua tahun terakhir kami sebenarnya memang memprediksi akan terjadi kenaikan harga gula. Akhirnya puncaknya tahun ini. Harga gula dunia juga sangat tinggi," imbuh dia.
Kendati harga gula makin ugal-ugalan, Parwanto mengaku tak bisa menikmati keuntungan dari kenaikan harga gula pasir yang sudah tembus Rp 17.000 per kilogram (kg) ini. Sebab, petani memiliki sistem beli putus kepada pihak selanjutnya. Di mana dulunya usai panen, dia langsung menjual seharga sekitar Rp 12.500 per kg.
"Sebab kami tidak mungkin menahan gula agak lama, sehingga saat ini pun kami sudah tidak pegang gula. Sekarang sudah tidak seperti dulu lagi yang ada proteksi dana talangan dari pemerintah," kata dia.
Dan perilaku pasar itu biasanya harga gula naik ketika gula petani sudah habis.
Fakta ini yang terjadi. Tidak hanya saat ini tapi memang dari dulu seperti itu. Hanya saja puncaknya saat ini memang cukup drastis kenaikannya. (ul/bun)
Editor : Damianus Bram