Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan Photo

Suku Bunga Naik, Bank Indonesia Optimistis Kinerja Perbankan di 2024 Tetap Stabil

Maulida Afifa Tri Fahyani • Rabu, 3 Januari 2024 | 07:20 WIB
Ilustrasi uang.
Ilustrasi uang.


RADARSOLO.COM- Memasuki 2024, ketahanan perbankan nasional digadang-gadang terus tumbuh. Meskipun tren suku bunga naik, kinerja perbankan diproyeksikan tetap stabil.

Kepala Bank Indonesia (BI) Solo Nugroho Joko Prastowo mengatakan, kondisi tersebut ditopang oleh permodalan yang tinggi, likuiditas yang mencukupi, serta kinerja intermediasi yang meningkat.

"Salah satu tantangan yang dihadapi perbankan berasal dari sisi suku bunga yang mengalami peningkatan,” ujarnya Selasa (2/1/2024).


“Terutama suku bunga acuan secara global, yang diprakirakan masih dalam level yang tinggi dalam jangka waktu yang cukup lama (higher for longer)," imbuhnya.

Namun, lanjut Joko, suku bunga domestik masih tetap kondusif dan kompetitif untuk mendukung kinerja intermediasi.

Itu karena kenaikan suku bunga acuan domestik yang lebih kecil dari kenaikan suku bunga acuan global.

Joko mengilustarikan, bahwa saat ini BI Rate hanya naik 250 bps dari 3,50 persen menjadi 6,00 persen.

Sementara suku bunga acuan Amerika Serikat (Fed Fund Rate) naik 525 bps dari 0 persen - 0,25 persen menjadi 5,25 persen -5,50 persen.

"Baru kali ini perbedaan (gap) antara BI Rate dan FFR sedemikian dekat, yang didorong oleh keberhasilan dalam pengendalian inflasi domestik," ungkapnya.

Kondisi likuiditas masih yang relatif longgar inilah, lanjut Joko, bakal memberi ruang bagi perbankan untuk mendorong pertumbuhan kredit ke depan.

Permintaan kredit diprediksi meningkat. Meski terdapat perilaku wait and see dari pelaku usaha terkait penyelenggaraan Pemilu 2024.

"Investasi yang telah terjadwal akan tetap berlanjut dan terjadi peningkatan konsumsi di beberapa daerah. Seperti Solo Raya yang menjadi destinasi wisata," kata Joko.

Di samping itu, potensi penguatan permintaan kredit juga berasal dari korporasi maupun rumah tangga seiring adanya insentif PPN DTP atau pembebasan pajak rumah oleh pemerintah.

BI akan melanjutkan dan memperluas sejumlah program. Seperti kebijakan insentif likuiditas makroprudensial untuk penyaluran kredit pada sektor prioritas (hilirisasi, perumahan, dan pariwisata), inklusif termasuk ultra mikro, serta pembiayaan hijau.

"Kredit UMKM pun juga terus menunjukkan potensi yang baik. Diperkirakan pertumbuhan kredit akan mencapai 10-12 persen di tahun ini," kata dia.

Tak hanya itu, tahun ini, BI akan melanjutkan kebijakan moneter yang pro stability dan kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran yang pro growth. (ul/wa)

 

Editor : Tri Wahyu Cahyono
#BI Solo #suku bunga #perbankan