RADARSOLO.COM - Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kota Solo masih didominasi oleh tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Mengacu data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Solo pada Agustus 2023, jumlahnya mencapai 1,85 persen.
Hal ini terjadi, karena kemampuan mereka masuk untuk masuk di dunia kerja dianggap belum memenuhi standar.
Wakil Sekretaris Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Solo Sri Saptono Basuki menyebut, kebutuhan pekerja lulusan SMK sebenarnya masih cukup tinggi di industri.
Namun, karakteristik mereka juga masih cukup rapuh. Sehingga perlu adanya perbaikan dan penambahkan kemampuan.
"Artinya harus ada yang diperbaiki terkait kemampuan mereka untuk masuk ke dunia kerja, baik soft skill, hard skill, dan link-match menuju kemampuan kerja," kata Basuki kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (22/1).
Basuki melanjutkan, peluang kerja di Indonesia masih bergantung pada jenis bisnis perusahan.
Meski begitu, semangat kerja, daya tahan, kompetensi serta kesempatan para lulusan tetap perlu ditambah untuk berkembang.
Hal ini karena tingkat turn over di kalangan lulusan SMK cukup tinggi dibandingkan dengan tingkatan pendidikan lainnya.
Link-match belum maksimal terjadi. Terlihat dari kebutuhan tenaga kerja yang cukup tinggi namun tak sejalan dengan kualifikasi jumlah pelamar yang juga melonjak.
Menurut dia, kini banyak CV yang terbuang karena perbedaan persepsi antara kebutuhan perusahaan dengan pelamar.
Sebab, pendidikan tinggi pelamar tidak selalu linier dengan kebutuhan perusahaan.
Alhasil standar kompetensi pekerjaan sudah mulai menjadi alternatif untuk menyaring calon pekerja.
"Tingkat pendidikan akan related dengan kebutuhan perusahaan berdasar job description dan job desk. Sehingga masing perusahaan akan terus meningkatkan skill internal agar kebutuhan pokok (level di atas operator) bisa dipenuhi oleh internal yang sudah menyatu dengan budaya perusahaan," imbuh Basuki.
Menurut Basuki, budget perusahaan untuk peningkatan skill menjadi unsur penting yang dipersiapkan. Demi menambah kemampuan sumber daya manusia. Sehingga keberlanjutan dan produktivitas berjalan optimal.
"Pendidikan vokasi, link-match, dan pemagangan dengan berbasis dunia kerja adalah pengetahuan yang juga perlu tingkatkan dari sektor pendidikan," ujar dia.
Pengamat pendidikan Edi Subkhan menilai, penyebab tingginya angka pengangguran bukan hanya faktor pendidikan. Namun juga ketersediaan lapangan kerja.
"Secara teoretis, makin tinggi pendidikan mestinya makin terbuka peluang pekerjaan, tapi untuk negara berkembang belum tentu, karena faktor ketersediaan lapangan kerja. Ini belum lagi kalau ditambah semakin tinggi pendidikan, katakanlah S1-S3 memang makin spesifik," ujar dia.
Dia juga melihat dari faktor pendidikan, bahwa kurikulum dan pembelajaran perlu menjadi perhatian. Di mana rata-rata permasalahan SMK adalah orientasinya atau visinya.
"Kalau visinya untuk menghasilkan lulusan siap kerja, maka di abad 21 tidak cukup kurikulumnya fokus pada skill teknis bekerja," kata dia.
Untuk itu, keterampilan kerja perlu ditunjang dengan kemampuan belajar dan adaptasi. Termasuk dengan teknologi. Sebab, selama ini kurikulum SMK lebih bersifat sempit dan teknis.
"Sekarang paling peluang banyak di bidang IT, tapi yang perlu diingat di bidang ini bukan sekadar korporasi besar cari pekerja, tapi peluangnya adalah pada lahirnya start-up baru," kata dia. (ul/bun)
Editor : Damianus Bram