Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner

Jelang Tradisi Sadranan, Harga Bunga Tabur Ikut Meroket

Maulida Afifa Tri Fahyani • Selasa, 20 Februari 2024 | 03:41 WIB
LARIS MANIS: Bunga tabur yang dijual pedagang di Pasar Kembang Solo, Senin (19/2/2024). Jelang tradisi sadranan menyambut hadirnya bulan suci Ramadan 1445 Hijriah.
LARIS MANIS: Bunga tabur yang dijual pedagang di Pasar Kembang Solo, Senin (19/2/2024). Jelang tradisi sadranan menyambut hadirnya bulan suci Ramadan 1445 Hijriah.

RADARSOLO.COM – Tak hanya sejumlah komoditas pokok yang mengalami kenaikan harga. Bunga tabur saat ini harganya perlahan naik.

Bahkan sampai dua kali lipat, jelang tradisi sadranan menyambut hadirnya bulan suci Ramadan 1445 H.

Pantauan RadarSolo.com di Pasar Kembang, Senin (19/2/2024), harga bunga tabur naik cukup signifikan. Satu keranjang bunga tabur dijual Rp 35 ribu-Rp 50 ribu. Padahal di hari biasa hanya Rp 20 ribu per keranjang.

Harga tiap jenis bunga tabur sudah naik dari petani. Bunga kenanga awalnya Rp 10 ribu-Rp 15 ribu, sekarang jadi Rp 30 ribu per kilogram (kg).

Kemudian bunga kanthil awalnya Rp 500, sekarang jadi Rp 1.000 per bungkus kecil.

“Sudah naik harga sejak tiga hari ini. Dari petaninya harga memang sudah tinggi. Jadi saya jual harganya juga naik,” kata pedagang bunga di Pasar Kembang Solo Mbah Harto, kemarin.

Sementara itu, harga bunga mawar merah dan putih juga melejit hingga lebih dari Rp 100.000 per 3 kg. Pedagang menduga kenaikan harga karena adanya penurunan produksi.

“Sekarang kan musim hujan, jadi produksi dari petani turun. Saya ambil stoknya dari petani di Boyolali,” beber perempuan 80 tahun ini.

Mbah Harto menyebut pembelian bunga tabur belum terlalu ramai. Diprediksi puncaknya terjadi beberapa hari mendekati Lebaran.

Kendati demikian, harga bunga tabur kemungkinan akan terus meroket.

Berkaca momentum sadaranan tahun lalu, kenaikan harga bunga tabur mencapai 10 kali lipat. Alhasil pedagang kejatuhan durian runtuh. Bisa mengantongi omzet Rp 1 juta per hari.

“Harapannya tahun ini lebih laris. Karena sudah selesai pandemi (Covid-19). Jadi pembeli lebih leluasa untuk keluar rumah,” ujarnya.

Pedagang bunga lainnya Darmin membenarkan kenaikan harga tersebut. Dia berpendapat kenaikan ini disebabkan permintaan masyarakat meningkat.

Apalagi sadranan kali ini berdekatan dengan Hari Raya Imlek. Di mana banyak etnis Tionghoa yang berburu bunga tabur untuk beribadah.

“Hampir sama tradisinya. Saat Imlek orang Tionghoa beli bunga tabur untuk nyekar dan sembahyang. Kalau orang Jawa buat nyekar dan Lebaran. Jadi memang permintaannya banyak,” tandasnya. (ul/fer)

Editor : Damianus Bram
#Bunga Tabur #Sadranan #harga #kenaikan harga #bulan suci ramadan