Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Produk Impor Tekan Industri Tekstil, API Minta Pemerintah Kencangkan Sabuk Aturan

Maulida Afifa Tri Fahyani • Jumat, 1 Maret 2024 | 02:27 WIB
Suasana pameran mesin industri apparel atau pakaian yang digelar dalam Indonesia Apparel Production Expo (IAPE) 2024 di Hall Diamond Solo Convention Center, Kamis (29/2/2024).
Suasana pameran mesin industri apparel atau pakaian yang digelar dalam Indonesia Apparel Production Expo (IAPE) 2024 di Hall Diamond Solo Convention Center, Kamis (29/2/2024).

RADARSOLO.COM - Meningkatnya gempuran produk impor menekan keberlangsungan iklim usaha nasional. Kondisi industri tekstil kian melemah seiring konflik geopolitik global.

Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jateng, Lilik Setiawan saat membuka Indonesia Apparel Production Expo (IAPE) di Solo, Kamis (29/2/2024).

Lilik menyebut, perlu peran pemerintah dalam memperketat masuknya produk impor ke Indonesia.

"Saat ini memang dibutuhkan kontribusi pemerintah. Seperti adanya Permendag Nomor 36 tahun 2023 terkait impor, kami sangat mendorong supaya permendag tersebut segera diberlakukan," kata Lilik.

Lilik mengatakan, produk industri tekstil saat ini telah memiliki daya saing yang cukup maksimal.

Namun, datangnya produk impor membahayakan iklim tersebut. Khususnya produk impor dari Tiongkok.

"Dari hasil rapimnas API di Surabaya kemarin, ternyata kondisi sekarang sudah sangat-sangat efisien. Dari struktur biaya itu hampir 100 persen itu sudah kami maksimalkan semua," ungkap Lilik.

Menurutnya, alasan produk impor cukup moncer di dalam negeri sebab peran pemerintah Tiongkok gencar mendorong pertumbuhan industri di negaranya. Lilik menyebut, pemerintah Tiongkok kerap membuka kawasan ekonomi.

"Jadi misalnya ada yang ingin investasi di suatu tempat. Pemerintah Tiongkok bisa jadi bikin proyek kawasan ekonomi khusus di situ," tutur dia.

Kendati demikian, Lilik menyadari bahwa Indonesia belum bisa mencapai upaya tersebut. Untuk itu, pihaknya mendorong pemerintah memperketat regulasi yang ada.

Bukan membendung seluruh produk impor yang masuk. Menurutnya, regulasi harus memilah antara bahan baku industri yang tidak tersedia di negeri sendiri. Sehingga impor boleh dilakukan sesuai kebutuhan industri.

"Kalau stop impor sepenuhnya begitu industri bisa kesulitan. Kemarin pemerintah ada positif list yang boleh impor, itu menurut saya merupakan peluang tepat. Meski begitu, pengawasannya juga harus dilakukan," tukasnya.

Lebih lanjut, Lilik juga menyebut, tantangan industri saat ini juga terletak pada upaya ekspor.

Adanya konflik geopolitik global membuat jalur distribusi ekspor macet. Sehingga biaya kirim yang dibutuhkan meningkat hingga lima kali lipat.

"Memang perkembengan ekspor di tahun ini sangat-sangat rendah. Dalam arti kami melakukan ekspor di negara-negara konvensional seperti Amerika, Asia, Korea Selatan, Jepang," kata Lilik.

"Meskipun juga menyasar Timur Tengah tapi intensitasnya kecil. Jadi kami berharap pasar domestik ini bisa tetap mendukung dan menyokong industri lokal ini," tukasnya. (ul)

Editor : Damianus Bram
#api #Indonesia Apparel Production Expo #produk impor #Asosiasi Pertekstilan Indonesia #industri tekstil