RADARSOLO.COM - Saham merupakan salah satu pilihan instrumen investasi yang menarik bagi masyarakat. Penting untuk mengetahui aspek fundamental saat berinvestasi saham. Investor pemula harus mengerti kapan mulai membeli atau menjual saham, agar senantiasa mendapatkan imbal hasil secara optimal.
Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Solo M. Wira Adibrata mengatakan, terdapat dua sumber keuntungan yang bisa didapatkan para investor saat berinvestasi saham, yaitu capital gain dan dividen.
Capital gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual suatu saham. Dimana keuntungan ini bisa didapatkan ketika investor melakukan transaksi jual beli saham yang dimiliki, dalam kondisi harga beli lebih rendah dibandingkan harga ketika dijual.
Sedangkan dividen merupakan laba atau keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham secara regular. Keuntungan ini akan didapat investor saat menyimpan saham dalam jangka waktu yang lama (tidak diperjual-belikan) atau memiliki saham sebelum cumulative date. Tanggal penentuan bagi para investor yang berhak mendapatkan dividen dari perusahaan.
”Misal kita beli sahamnya Bank BRI. Selama kita masih memegang saham tersebut sampai dengan tanggal ditentukan (cum date), maka kita berhak atas dividen perusahaan sesuai proporsi kepemilikan saham kita,” kata Wira.
Wira mengatakan, investor juga bisa mendapat dua keuntungan, baik dari capital gain maupun dividen jika memegang saham dalam jangka panjang.
”Misal kita beli hari ini seharga 1000 per 1 lot, kemudian satu tahun harganya barangkali naik ke 1100. Selisi kenaikan ini namanya capital gain. Ternyata dalam jangka satu tahun itu, kita juga bisa jadi dapat dividen mungkin 50 per lembar. Jadi bisa dapat dua-duanya,” lanjutnya.
Wira menyarankan, agar tidak membeli saham ketika mendekati pembagian dividen. Sebab dipastikan harga naik, akibat banyak orang yang membeli saham emiten yang akan membagikan laba perusahaan.
”Jadi orang bermain saham itu strateginya macam macam. Ada yang cari capital gain dan dividen untuk jangka panjang. Ada juga yang cuma cari untung dari devidennya. Itulah mengapa harga saham sebelum pembagian deviden perusahaan itu naik, sehingga tidak dianjurkan membeli saat itu,” katanya.
Lebih lanjut, Wira menjelaskan, harga saham bisa diperkirakan turun seusai pembagian deviden. Karena usai laba perusahaan berhasil dibagikan kepada pemegang saham, banyak investor yang sudah merasa untung. Sehingga menjual kembali sahamnya.
Meski begitu, Wira juga mengimbau, investor harus memahami mana jenis perusahaan yang rutin membagikan dividen. Hal itu bisa dilakukan dengan melihat riwayat dari perusahaan.
”Jadi belum tentu ketika Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perusahaan itu bakal membagikan dividennya. Namun hal itu bisa dilihat dari historical-nya, apakah perusahaan ini rutin membagikan dividen atau tidak,” jelas Wira.
”Selain itu, investor juga perlu memahami analisa pasar, resiko, dan kondisi emiten (perusahaan) yang hendak kita beli sahamnya. Karena ada sejumlah faktor yang bisa mempengaruhi kondisi keuangan perusahaan tersebut. Seperti perbankan yang dipengaruhi oleh suku bunga dan ekonomi global juga,” tandasnya. (ul/adi)
Editor : Adi Pras