RADARSOLO.COM — Kemandirian ekonomi di lingkup pondok pesantren (ponpes), berperan penting dalam memperkuat ekonomi nasional. Karena ponpes menjadi bagian dari strategi pengembangan ekonomi syariah. Seperti diungkapkan Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Kota Solo Dwiyanto Cahyo Sumirat.
Wiyanto menjelaskan, konsep ponpes sebagai pusat pendidikan ilmu agama dan kewirausahaan, diharapkan ikut mendorong jiwa entrepreneurship para santri.
Supaya tercipta kesejahteraan bagi ponpes dan lingkungan sekitar. Sehingga BI menggandeng ponpes, sebagai pilar strategi pengembangan ekonomi syariah. Melalui penguatan ekosistem halal value chain (HVC).
Fokus dari sektor unggulan ini adalah, mulai dari sisi hulu sampai hilir. Mulai dari sektor makanan dan minuman halal, muslim fahion, pariwisata ramah muslim, termasuk sektor pertanian. Dalam hal ini, perlu penguatan produktivitas, kompetensi santri, hingga kelembagaan ponpes.
“Bersama Himpunan Ekonomi dan Bisnis Pesantren (Hebitren) Solo Raya, kami mengimplementasikan program kemandirian pesantren di sektor pertanian. Melalui Intregated Farming Technology and Information (Infratani) sejak 2021. Mengoptimalkan teknologi informasi untuk komoditi melon,” terang Dwiyanto di sela panen raya cabai di salah satu ponpes di Wonogiri, Senin (20/5/2024).
Dwiyanto menambahkan, program Infratani juga fokus pada budi daya komoditas penyumbang inflasi. Ambil contoh cabai merah. Program tersebut, menyasar sejumlah ponpes di Solo Raya. Salah satunya ponpes Al-Fatah di Wonogiri, yang mengembangkan komoditas cabai melalui green house. Termasuk hilirisasi produk berbahan baku ikan.
“Pada Februari, cabai merah salah satu penyumbang inflasi terbesar ketiga di Wonogiri. Karena berkurangnya panen akibat cuaca ekstrem (El Nino). Selain itu, budi daya cabai dengan pemanfaatan lahan belum optimal,” imbuhnya.
Berawal dari kondisi tersebut, BI menyumbang satu unit green house berbasis teknologi modern internet of things (IoT) pada 2022. Ditanami cabai, yang memiliki potensi umur hingga 6 bulan. Serta dapat dipanen lebih dari 15 kali.
Baru setahun berjalan, Ponpes Al-Fatah berhasil memanen cabai 1,1 ton. Sehingga meraup keuntungan lebih dari Rp 30 juta. Tahun ini, sekira 1.000 batang tanaman cabai dipanen. Dwiyanto berharap, budi daya cabai bisa berkelanjutan.
“Ponpes mulai mengembangkan hilirisasi cabai. Terutama untuk meningkatkan nilai tambah, melalui pembuatan sambal dan bubuk cabai,” papar Dwiyanto. (ul/fer)
Editor : Niko auglandy