RADARSOLO.COM – Suara khas motor roda tiga milik Wahyudi, 45, menjadi alarm alami bagi anak-anak di Dusun Simpar dan Dusun Tlogobandung, Desa Tirtosuworo, Kecamatan Giriwoyo, Wonogiri.
Sekali dalam sepekan, pemilik perpustakaan keliling itu rutin mengajak anak-anak di desanya untuk membaca buku bersama.
Bisa juga mendongeng sembari menikmati suasana sore di pinggir danau, yang hanya terbentuk setiap musim hujan itu.
Hari cerah di tengah musim penghujan selalu jadi pilihan waktu yang tepat bagi Wahyudi untuk mengajak anak-anak di sekitar Desa Tirtosuworo untuk berkegiatan di luar ruangan.
Karena itulah kegiatan membaca yang biasanya dilakukan di Rumah Baca Sang Petualang dipindah ke lokasi-lokasi menarik.
Tujuannya untuk memberikan kesan berbeda pada anak-anak di kampung halamannya tersebut.
“Lokasi ini namanya Telaga Simpar. Di sini suasana pas untuk membaca dan mendongeng di luar ruangan saat hari cerah di tengah musim penghujan seperti ini," tutur Wahyudi, pendiri Rumah Baca Sang Petualang kepada radarsolo.com.
"Soalnya telaga ini hanya ada airnya saat musim penghujan. Jadi saat hari cerah lokasi ini jadi tempat favorit untuk membaca buku di sore hari,” imbuh dia.
Dengan jarak hanya 1 kilometer dari markas Rumah Baca Sang Petualang, Telaga Simpar jadi jujugan dan sarana rekreasi yang murah meriah untuk anak-anak di sekitar kediaman Wahyudi.
Sebagai warga asli Desa Tirtosuworo, dia paham betul tentang sulitnya anak-anak di sana mendapatkan fasilitas yang memadai tentang buku bacaan.
Hal itulah yang menjadi alasan utamanya saat mendirikan rumah baca yang dirintis sejak 2015 silam.
“Biasanya kegiatan dilakukan di rumah baca. Biar ganti suasana sesekali anak-anak memang saya ajak ke tempat-tempat berbeda seperti ini. Mereka senang membaca di luar ruangan, makin aktif dan makin gemar membaca,” ujar dia.
Melihat suasana bahagia dan gelak tawa dari anak-anak usia SD di kampungnya itu, Wahyudi pun terkenang pengalamannya setahun yang lalu.
Tepatnya saat dia dihadiahi motor roda tiga oleh JNE untuk mengembangkan perpustakaan keliling dan rumah baca yang sudah digeluti bertahun-tahun lamanya itu.
Kendaraan roda tiga itu, diakui dia, sangat membantu mobilitas Rumah Baca Sang Petualang.
Khususnya giat perpustakaan keliling dalam setahun terakhir ini.
“Kendaraan ini saya dapat di Maret 2023, sudah setahun lebih. Jelas sangat membantu. Sebelumnya hanya bisa bawa buku saja, kalau ini anak-anak bisa saya naikkan ke motor sambil keliling ke tempat-tempat baru,” papar Wahyudi.
Tak hanya itu, kendaraan roda tiga yang lengkap dengan logo JNE itu juga membuat Rumah Baca Sang Petualang makin tinggi daya jelajahnya.
Naik turun kawasan perbukitan yang ada di Wonogiri. Serta trabas di jalanan berbatu jadi makin mudah.
Perpustakaan keliling yang digawangi Wahyudi itu pun makin gesit untuk menyapa anak-anak kampung yang tinggal di dalam pelosok pedesaan yang jauh dari fasilitas buku bacaan.
Ya, sebab di Wonogiri yang juga dikenal dengan sebutan Kota Gaplek itu, memang masih banyak ditemui medan sulit di pelosok desa.
“Waktu masih pakai kendaraan roda dua itu maksimal hanya bisa bawa 100 buku bacaan, itu pun sudah sangat sulit kalau naik tanjakan atau masuk ke jalur perkebunan," ucao dia.
Tapi, lanjut dia, setelah ada kendaraan roda tiga dari JNE tersebut, keluar masuk hutan pun tidak jadi halangan.
Wahyudi pun bisa membawa buku dengan jumlah lebih banyak untuk sekali jalan.
"Bonusnya terkadang anak-anak di dua dusun dekat rumah saya bisa saya ajak ke tempat-tempat menarik untuk membaca naik kendaraan ini,” kenang Wahyudi.
Di sisi lain, kendaraan roda tiga dari JNE itu benar-benar membantu si pegiat literasi tersebut makin seimbang dalam menjalankan aktivitas sosial dan penguatan ekonomi sehari-harinya.
Sebab, kendaraan itu ternyata juga bisa mendukung pekerjaannya sebagai pedagang.
Dengan pemasukan yang cukup, kini Wahyudi tak lagi khawatir kekurangan biaya untuk menutup kebutuhan Rumah Baca Sang Petualang itu.
“Sehari-hari saya dagang. Kadang buka lapak permainan dan kuliner dari bazar ke bazar dan di car free day (CFD) Giriwoyo. Dengan kendaraan dari JNE ini saya bisa gelar lapak untuk perpustakaan kelilingnya bareng dengan buka lapak dagangan saya," terang dia.
Hal ini tentu berbeda dengan sebelumnya. Karena dulu dia belum memiliki daya tarik tersendiri. Yakni menawarkan konsep perpusatakaan keliling saat menjajakan dagangan.
"Dulu kadang hasil jualan sulit untuk menutup kebutuhan perpustakaan keliling. Sekarang sosial dan ekonominya semakin seimbang,” kata dia lega.
Kerap Bantu Jadi Kurir JNE, Pegiat Literasi Asal Wonogiri Bisa Buka Gerai JNE
Hubungan baik sang pegiat literasi asal Wonogiri dengan JNE pun terus berlanjut hingga saat ini.
Tak jarang, Wahyudi juga diperbantukan menjadi kurir JNE saat dirinya senggang. Pemasukan dari menjadi kurir paruh waktu itu, diakuinya, sangat membantu perekonomian.
Termasuk bisa menyisihkan uang untuk menunjang operasional perpustakaan keliling yang terus dirawat sampai hari ini.
“Saya itu sering dikontak sama JNE Baturetno, Wonogiri. Kalau mereka kekurangan kurir, saya diminta bantu-bantu," ucap dia.
Saat jadi kurir paruh waktu JNE, dia mengaku bisa mengirim 40 paket dalam sehari.
"Jumlah itu sudah bagus, karena di Wonogiri kan medannya berat. Naik turun bukit dan daya jelajahnya jauh bisa sampai Paranggupito (berbatasan dengan Jawa Timur dan Jogja, Red) dan wilayah sekitarnya," terang Wahyudi.
Selain merangkap sebagai kurir perbantuan di JNE Baturetno, sang pegiat literasi ini juga terus menjaga hubungan baik dengan JNE, baik di tingkat lokal maupun pusat.
Beberapa watu lalu, dia bahkan juga sempat ikut nobar bareng petinggi JNE di Jakarta. Serta mengikuti kegiatan dengan membawa motor perpustakaan keliling dari JNE ke Jogja.
Hubungan yang terus terjalin baik tersebut akhirnya membuka peluang kerja sama baru bagi pria asal Kota Gaplek itu.
Saat ini, dia dan rekan-rekannya yang membantu di Rumah Baca Sang Petualang tengah menjajaki peluang untuk menjadi agen JNE.
Sebagai tindak lanjut, Wahyudi sudah menjalin komunikasi dengan JNE Wonogiri untuk membuka gerai baru JNE di Giriwoyo.
Bagi Wahyudi, dengan mengambil peluang itu artinya juga memastikan Rumah Baca Sang Petualang terus eksis di masa depan.
Sembari mengupayakan rekan-rekan yang selama ini mendukungnya, juga punya pendapatan yang menjanjikan melalui konter JNE yang akan dia buka.
Sebab menurutnya, connecting happiness bukan sekadar memastikan perpustakaan kelilingnya tetap eksis dan ajek menyapa anak-anak di pelosok desa.
Namun juga bisa memastikan rekan-rekan yang membantunya tetap sejahtera.
“Sekarang saya dan teman-teman di Rumah Baca mau buka Gerai JNE di Giriwoyo. Sudah komunikasi dengan Tim JNE Wonogiri dan sudah di-ACC, tinggal cari tempatnya," papar dia.
"Atas namanya saya, tapi untuk teman-teman juga biar punya pemasukan yang lebih baik,” imbuh Wahyudi
33 Tahun Menyambung Kebahagiaan, JNE Konsisten Dongkrak Kreativitas Anak Bangsa Hingga Sektor Pendidikan
Di usia yang semakin matang, PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) menjadi pilihan terbaik dalam hal pengiriman logistik dan ekpedisi di Indonesia.
Memiliki jaringan dan jangkauan distribusi yang luas dan telah mencakup 83.000 kota/kabupaten di Indonesia.
Dengan lebih dari 8.000 titik gerai penjualan (konter/agen), JNE memastikan selalu bisa menyambungkan kebahagiaan hingga pelosok negeri.
Hal ini sebagaimana slogan Connecting Happiness yang diusung JNE, selama sekian tahun ini.
Branch Manager JNE Cabang Utama Solo, Agus Yunanto mengatakan, JNE sudah memiliki jaringan yang menyentuh semua wilayah di Indonesia.
Termasuk di Wonogiri, Jawa Tengah, yang masuk Zona C di peta JNE.
"Meski demikian, kami selalu memberi kesempatan semua pihak untuk menjadi agen penjualan atau membuka gerai (konter)," ujar Agus.
Tentu, ada syarat-syarat dan ketentuan yang berlaku untuk menjadi agen JNE.
"Namun jika potensinya memang perlu, maka pembukaan gerai baru itu bisa dilakukan agar jangkauan dan pelayanan makin dekat pada masyarakat,” kata papar dia.
Zona C, sambung Agus, miliki karakteristik yang cukup menantang karena jangkauannya luas dengan medan yang sulit dijangkau.
Kawasan itu lebih banyak menjadi tujuan pengiriman.
Sehingga yang diperlukan adalah memperbanyak jumlah pengirimnya.
Namun, seiring perubahan pasar dan maraknya jual beli online di Indonesia, muncul banyak kemungkinan bagi produsen atau pemilik nama dagang di daerah menjadi rekanan JNE.
Dengan kondini ini, tentu terbuka peluang bagi masyarakat di daerah untuk menjadi agen-agen JNE di berbagai wilayah. Bahkan hingga di wilayah yang sulit dijangkau sekali pun.
“Di daerah Zona C banyak muncul brand lokal yang cukup menjanjikan. Tentu ini jadi kesempatan bagi yang berminat menjadi agen baru," ucap dia.
Sehingga, lanjut di, sekaligus bisa memangkas jarak dan waktu yang harus ditempuh saat pengiriman berlangsung
Konsep mendekatkan pelayanan dengan semangat Connecting Happiness itu pun sejalan dengan prinsip berbagi, memberi, dan menyantuni lewat berbagai program CSR yang disiapkan tiap tahun guna mendukung sektor sosial, kesehatan, hingga pendidikan.
Salah satunya yang dilakukan JNE Cabang Utama Solo yang konsisten memberi dukungan pada tokoh sosial dan sejenisnya. Seperti halnya kepada Wahyudi.
“Kami melihat perjuangan sosok-sosok pegiat sepeti Wahyudi sebagai aset bangsa. Karena itu, kita akan selalu memberi dukungan sebagai upaya yang dilakukan JNE dalam mencerdaskan anak bangsa," tandas Agus. (ves/ria)