Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Transaksi Digital Makin Gencar, Peredaran Uang Kertas di Jateng Menurun

Maulida Afifa Tri Fahyani • Selasa, 4 Maret 2025 | 03:54 WIB
Transaksi digital lebih mudah. (M Arief Budiman/Radar Solo)
Transaksi digital lebih mudah. (M Arief Budiman/Radar Solo)

RADARSOLO.COM – Peredaran uang tunai di Jawa Tengah mengalami penurunan signifikan seiring dengan meningkatnya transaksi digital.

Data dari Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah menunjukkan bahwa outflow atau arus uang kartal yang keluar mengalami penurunan sebesar 6 persen, dari Rp 33,3 triliun pada 2023 menjadi Rp 31,2 triliun pada 2024.

Kepala BI Jawa Tengah Rahmat Dwisaputra mengatakan bahwa tren ini dipengaruhi oleh semakin luasnya penggunaan transaksi digital, termasuk pembayaran elektronik dan QRIS.

"Stabilitas sistem pembayaran tetap terjaga dengan ketersediaan uang Rupiah yang cukup dan layak edar. Namun, outflow dari BI Jateng mengalami penurunan seiring dengan digitalisasi transaksi," ujar Rahmat, Senin (3/2).

Selain penurunan outflow, inflow atau arus uang kartal yang masuk ke BI Jateng juga turun 7 persen, dari Rp 38,4 triliun pada 2023 menjadi Rp 35,9 triliun pada 2024.

Di sisi lain, transaksi digital mengalami lonjakan tajam. Transaksi uang elektronik mencapai 409,9 juta transaksi dengan nilai total Rp30,6 triliun pada 2024. Sementara itu, penggunaan QRIS melonjak hingga 18,73 persen (yoy), mencerminkan pergeseran masyarakat menuju pembayaran non-tunai.

Rahmat menekankan bahwa BI akan terus mendorong literasi Rupiah dan sistem pembayaran digital agar masyarakat semakin terbiasa dengan transaksi elektronik.

"Pada 2024, BI Jateng telah melakukan edukasi daring dan luring dengan target 6 ribu orang. Literasi Rupiah di wilayah kerja BI Jateng mencapai indeks 78,96, masuk dalam kategori baik," jelasnya.

Meskipun menghadapi ketidakpastian ekonomi global, BI optimistis bahwa ekonomi Jawa Tengah tetap stabil, didukung oleh konsumsi domestik yang kuat.

Rahmat menyebut, kenaikan upah minimum provinsi (UMP), gaji guru, dan aparatur sipil negara (ASN) akan mendorong daya beli masyarakat. Selain itu, sektor pertanian diprediksi mengalami pertumbuhan seiring dengan kondisi cuaca yang lebih terkendali, sehingga mengurangi risiko gagal panen.

"Untuk mempertahankan tren pemulihan ekonomi, diperlukan strategi yang lebih kuat dan sinergi kebijakan guna menjaga produktivitas sektor utama serta iklim investasi yang kondusif," tandas Rahmat. (ul/bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#uang kertas #jawa tengah #transaksi digital #konsumsi #outflow