RADARSOLO.COM – Indonesia sempat diterpa badai pandemi Covid-19 pada 2020, banyak orang kehilangan pekerjaan dan arah.
Namun, tidak bagi Darwin. Pria asal Solo ini justru menemukan jalan hidup barunya di tengah krisis.
Dia berjuang membangun usaha kerajinan kulit yang kini mulai berkembang dan dikenal luas.
Sebelumnya Darwin sempat bekerja di sebuah perusahaan. namun, adanya Covid U-19 membuatnya memutuskan untuk banting setir.
Dia memulai usahanya dengan merancang produk-produk berbahan dasar kulit, meskipun harus mengalami kerugian di awal karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, namun hal tersebut diambilnya sebagai bagian dari sebuah perjuangan membungun bisnisnya.
“Saya mulai dari satu dua produk dulu sebagai sampel. Ternyata, hasilnya layak untuk dipasarkan. Dari situ saya mulai serius,” ungkap Darwin.
Kerajinan kulit miliknya terletak di Jalan Sekat Jagad Pajang, Kecamatan Laweyan, Solo terus berjuang mengembangkan bisnisnya.
Kendala terbesar yang dia hadapi adalah kesulitan mendapatkan industri kulit di Solo. Dia pun harus mengambil bahan dan belajar langsung dari Kota Magetan, yang dikenal sebagai salah satu pusat industri kulit yang lebih berkembang.
Selain itu, keterbatasan alat dan bahan baku sempat menjadi tantangan, namun berkat kemajuan teknologi dan pemasaran online, semua bisa lebih mudah dijalani.
“Saya lebih banyak memasarkan lewat media sosial seperti Facebook, dan Instagram. Untuk market place besar saya belum masuk karena sangat besar biayanya,” tambahnya.
Produk yang pertama dia buat adalah dompet, yang saat itu sedang banyak peminatnya. Seiring meningkatnya permintaan, Darwin memperluas produknya ke tas, card holder, dan berbagai jenis kerajinan lainnya.
Dia pun belajar sendiri cara membuat pola hingga menjahit, dengan mengandalkan mesin khusus dan alat-alat standar produksi kulit.
Jenis kulit yang sering digunakan adalah kulit sapi karena memiliki banyak variasi pengolahan seperti kulit nabati, full up, full grain, dan lainnya.
Kulit sapi dinilai lebih fleksibel dan mudah dikembangkan menjadi berbagai bentuk kerajinan dibandingkan kulit domba yang lebih cocok untuk jaket.
“Semuanya saya mulai dari rasa suka. Kalau kami senang dulu dengan kulit, mungkin kedepannya kami menikmati pekerjaan itu. Pasarnya masih besar, apalagi anak muda sekarang pintar-pintar dalam pemasaran, lebih prospek lah begitu,” tutup Darwin. (mg7/mg8/nik)
Penulis: Nazla Khaerunnisa
Editor : Niko auglandy