RADARSOLO.COM — Cakupan kepesertaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di wilayah Solo Raya terus menunjukkan tren positif. Tercatat, tingkat Universal Health Coverage (UHC) mencapai 99,41 persen per 1 Mei 2025.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Solo Debbie Nianta Musigiasari menyebutkan, capaian ini mencakup lima daerah wilayah kerjanya yaitu Kota Solo, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, dan Sragen.
"Secara total ini UHC atau cakupan kepesertaan JKN sudah di 99,41 persen, namun demikian yang masih menjadi PR adalah keaktifan peserta yang secara total masih di 74,92 persen," kata Debbie dalam temu media di Kota Solo, Kamis (22/5/2025).
Debbie menguraikan, tingkat keaktifan tertinggi dicapai oleh Kota Solo yang sebesar 87,08 persen. Disusul Karanganyar sebesar 78,02 persen dan Sukoharjo 76,85 persen.
"Sementara Wonogiri dan Sragen masih cukup rendah, masing-masing di angka 71,34 persen dan 66,99 persen," imbuhnya.
Menurutnya, segmen kepesertaan didominasi oleh Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang dibiayai oleh pemerintah pusat. Diikuti oleh Peserta Pekerja Penerima Upah (PPU) yang mencakup ASN dan pekerja swasta.
"Peserta mandiri dan kelompok bukan pekerja seperti pensiunan juga tercatat cukup signifikan," paparnya.
Dari sisi layanan, BPJS Kesehatan Kantor Cabang Solo tercatat telah bermitra dengan lebih dari 500 fasilitas kesehatan. Fasilitas Tingkat Pertama (FKTP) mencakup 394 unit, terdiri dari puskesmas, klinik pratama, dokter praktik perorangan, dan dokter gigi.
Sementara itu, Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) terdiri dari 55 rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta.
"Selain itu, terdapat 106 sarana penunjang seperti apotek, laboratorium, dan optik yang juga bekerja sama dalam ekosistem layanan JKN," sebut Debbie.
Sementara terkait penyakit yang paling banyak diklaim, Debbie menyebutkan, penyakit kronis seperti diabetes mellitus, hipertensi, dan infeksi umum masih mendominasi klaim rawat jalan dan rawat inap.
Sedangkan dari sisi pembiayaan, penyakit katastropik seperti gagal ginjal kronis (hemodialisis), penyakit jantung, dan kanker menjadi penyumbang klaim biaya tertinggi, yakni sekitar 30 hingga 40 persen dari total pembiayaan.
"Biaya layanan penyakit katastropik sangat tinggi, misalnya cuci darah yang dilakukan dua kali seminggu bisa mencapai jutaan rupiah setiap bulan. Makanya, peserta dengan kondisi cuci darah hampir semuanya masuk ke program JKN," ujarnya. (ul/nik)
Editor : Niko auglandy