RADARSOLO.COM - Pemahaman tentang literasi finansial sebaiknya ditanamkan sejak usia dini, karena hal ini dapat membentuk generasi yang melek finansial dan mandiri.
Kebiasaan ini menjadi fondasi penting untuk membangun karakter yang bertanggung jawab di masa depan.
Psikolog anak, Hani Kumala, menekankan pentingnya mengajarkan konsep keuangan kepada anak-anak sejak usia 2 hingga 3 tahun.
Meskipun mereka belum memahami uang secara langsung, anak-anak sudah dapat dikenalkan pada konsep dasar seperti pilihan, konsekuensi, dan pertukaran nilai.
Menurut Hani, literasi finansial pada anak balita tidak harus dimulai dari pemahaman soal uang, melainkan dari proses belajar membuat keputusan.
“Misalnya, anak diberi pilihan, mau makan A atau B. Dari situ anak belajar bahwa dalam hidup ada pilihan, dan setiap pilihan punya konsekuensi,” ujarnya dalam webinar Pentingnya Pendidikan Literasi Keuangan Bagi Generasi Muda yang diselenggarakan baru-baru ini.
Metode menyenangkan seperti bermain peran menjadi kasir, memiliki celengan fisik dengan gambar tujuan menabung, serta mengajarkan konsep menabung, juga disebut Hani sebagai pendekatan yang efektif.
Anak-anak membutuhkan pengalaman riil untuk memahami makna menabung dan nilai tukar. Hani juga menyoroti pentingnya pemilihan kosakata yang sesuai dengan usia anak.
"Anak-anak di bawah usia sekolah dasar jangan langsung dikenalkan dengan istilah seperti investasi atau anggaran. Sebaiknya, ajarkan mereka lewat benda-benda sekitar dan kegiatan sehari-hari yang berkaitan dengan keuangan," tambahnya.
Pada usia sekolah dasar, Hani melanjutkan, anak dapat mulai diberikan uang mingguan dan diajak berdiskusi tentang cara mengelola uang tersebut.
Di tahap ini, anak-anak mulai bisa diajarkan bahwa usaha atau kerja bisa menghasilkan uang, misalnya dengan melakukan pekerjaan rumah atau menjual kerajinan sederhana.
“Anak-anak juga harus diajarkan untuk berbagi, agar mereka memahami bahwa keuangan bukan hanya soal kepemilikan, tapi juga kepedulian,” jelas Hani.
Seiring bertambahnya usia, anak-anak bisa dikenalkan dengan konsep keuangan yang lebih kompleks, seperti perencanaan keuangan jangka panjang dan risiko investasi.
Dengan pendekatan bertahap sesuai perkembangan psikologis, anak-anak tidak hanya diajarkan cara mengelola uang, tetapi juga dibentuk menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.
"Edukasi finansial bukan sekadar memberikan informasi kepada anak, tetapi membangun kebiasaan dan nilai melalui pengalaman sehari-hari yang menyenangkan," tutupnya. (ul/nik)
Editor : Niko auglandy