RADARSOLO.COM – Di tengah gejolak ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih, sektor keuangan syariah diklaim menunjukkan tren positif. Indikator pertumbuhan berbagai instrumen dan layanan keuangan syariah memperlihatkan, bahwa industri ini terus menguat dan menjanjikan.
Pelaksana tugas (Plt) Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) M. Ismail Riyadi menjelaskan, Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) tumbuh 4,81 persen sejak awal tahun. Sementara itu, Asset Under Management (AUM) Reksa Dana Syariah naik signifikan sebesar 16,74 persen, menjadi Rp 59,01 triliun.
“Ini menjadi sinyal positif, bahwa pasar merespons baik produk-produk syariah. Kinerja intermediasi juga tetap tumbuh positif,” paparnya.
Ismail menambahkan, pembiayaan perbankan syariah tumbuh 8,87 persen secara tahunan (year-on-year). Kontribusi asuransi syariah naik 8,04 persen, dan piutang pembiayaan syariah juga menguat 8,03 persen.
Kondisi ini memperkuat optimisme, bahwa keuangan syariah semakin diminati masyarakat. Selain menawarkan skema berbasis prinsip keadilan dan transparansi, sektor ini dinilai lebih tangguh menghadapi tekanan ekonomi global.
Di sisi lain, proses pemisahan unit usaha syariah dari perusahaan induk (spin-off) juga terus berjalan. Dia menyebut sebanyak 41 perusahaan telah menyampaikan rencana kerja pemisahan unit syariah (RKPUS).
Dari jumlah tersebut, 29 perusahaan akan mendirikan perusahaan syariah baru. Sementara 12 perusahaan memilih mengalihkan portofolio ke perusahaan lain.
“Tahun ini ditargetkan ada 18 perusahaan mendirikan entitas baru. Kemudian delapan perusahaan lainnya mengalihkan portofolio,” urainya. (zia/fer)
Editor : fery ardi susanto