RADARSOLO.COM - Suasana kawasan Ngarsopuro, Kecamatan Banjarsari, Solo, tampak jauh lebih semarak dari biasanya. Sabtu (28/6) pagi.
Agenda serupa juga akan digekar Minggu (29/6).
Kawasan ini dipenuhi wisatawan yang memanfaatkan momentum libur panjang Tahun Baru Islam 1447 H untuk berwisata di Kota Bengawan.
Salah satu destinasi yang paling ramai diserbu adalah Solo Art Market (SAM).
Deretan lapak pelaku UMKM memadati sepanjang jalan, menawarkan berbagai produk kerajinan tangan lokal khas Solo.
Mulai dari kain batik, blangkon, kebaya, aksesori dari manik-manik, produk daur ulang, hingga cendera mata bernuansa budaya Jawa.
Suasana makin semarak dengan alunan musik tradisional dan pertunjukan kesenian jalanan yang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.
Risa, salah satu pedagang kebaya yang ikut meramaikan pasar seni tersebut, mengaku penjualan mengalami peningkatan selama libur panjang ini.
"Biasanya yang ramai itu malam Minggu, tapi sejak kemarin banyak pembeli dari luar kota. Mereka beli kebaya, bros, kain bludru. Harganya macam-macam, mulai dari Rp. 50 ribuan sampai Rp. 85 ribu untuk kebaya full set. kebanyakan yang beli buat koleksi dan foto-foto," ujarnya sambil melayani pembeli.
Salah satu pengunjung, Safira Tyas Putri,26, wisatawan asal Semarang, mengaku baru pertama kali mengunjungi Solo Art Market.
Dia tertarik datang setelah melihat unggahan di media sosial.
“Saya lihat dari IG, katanya di Solo ada pasar seni yang lucu-lucu. Pas long weekend ini, saya ajak teman buat main ke Solo. Dan ternyata, benar-benar unik. Banyak barang yang nggak pernah saya temui sebelumnya,” ucap Fira yang saat itu tampak membawa tas belanja berisi bros batik dan miniatur keris kayu.
Senada, Lintang, 33, wisatawan asal Jogja, juga merasa terkesan dengan suasana pasar seni yang menurutnya sangat kental dengan budaya Jawa.
“Saya senang budaya. Di sini bisa lihat langsung produk-produk UMKM yang benar-benar punya ciri khas lokal. Harganya terjangkau, dan kebanyakan produknya handmade. Saya beli blangkon kecil dan gantungan kunci wayang buat oleh-oleh,” ujarnya.
Lintang juga menyebut bahwa pasar ini sangat Instagramable. Banyak pengunjung yang sengaja datang untuk berfoto, mengabadikan suasana artistik pasar malam dengan latar lampu-lampu gantung dan instalasi seni tradisional yang dipajang terbuka.
Berbeda lagi dengan Kevin Dwi, 39, warga Klaten yang datang bersama keluarga. Baginya, Solo Art Market bukan sekadar tempat belanja.
"Anak-anak saya suka lihat pertunjukan musik jalanan dan demo lukis. Jadi ini semacam wisata edukasi juga. Sekali jalan, bisa belanja, lihat budaya, dan foto-foto. Lokasinya juga strategis dekat dengan pusat kota dan banyak tempat kuliner,” jelasnya.
"Tadi saya habis dari Pura Mangkuengaran, terus lihat kearah sini, kok ada bazzar sekalian saja mampir sama anak-anak. Ternyata bagus banget," kata Kevin. (atn/nik)
Editor : Niko auglandy