RADARSOLO.COM - Denting logam beradu dengan palu kecil terdengar berulang-ulang dari sudut sempit di los Pasar Jongke. Suaranya nyaring, tapi teratur. Seolah punya irama tersendiri.
Dari celah meja kayu yang penuh bekas bakaran logam, sinar lampu putih menyinari potongan perak yang sedang dibentuk. Di balik meja itulah Sandy, warga Kelurahan Sriwedari, Kecamatan Laweyan, Solo ini membuat kreasi cincin perak ukir.
Saat bekerja, Sandy duduk membungkuk. Tangan kirinya memegang tang. Sedangkan tangan kanannya mengetuk palu dengan pelan, sembari memutar cincin yang sedang digarap.
Sesekali dia mengangkat kepala. Mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan, sebelum kembali menekuni pekerjaannya.
“Kalau sudah pegang cincin perak, waktu rasanya cepat sekali. Sudah tujuh tahun ini saya merintis usaha kerajinan perak di Pasar Jongke,” ujarnya sembari tersenyum tipis kepada Jawa Pos Radar Solo di lapaknya, belum lama ini.
Sandy bukan orang baru di dunia perhiasan Kota Bengawan. Tercatat sudah 16 tahun atau tepatnya sejak 2002 dia menekuni pembuatan cincin.
Diawali dengan bekerja di sebuah toko emas kenamaan di Solo.
Selama berkeja di sana, berbagai teknik produksi memotong logam, menempa, mengukir detail, hingga merakit perhiasan jadi santapan sehari-hari.
Meski terampil, gaji yang diterima hanya mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.
“Saya pikir sampai kapan mau kerja ikut orang lain? Kalau punya keahlian, kenapa tidak bikin usaha sendiri,” kenangnya.
Keputusan besar diambil Sandy pada 2018. Dia memutuskan merintis usaha sendiri. Alih-alih memilih lokasi yang dikenal sebagai sentra kerajinan seperti Pasar Klewer atau Alun-Alun Utara, dia justru memilih Pasar Jongke.
“Di sini strategis. Dekat perlintasan orang, tapi belum ada tukang tempa perak. Saya pikir ini peluang yang belum diambil orang,” bebernya.
Lapak Sandy tidak mewah dan tidak terlalu luas. Hanya ada sebuah meja kayu yang penuh peralatan. Ada bor mini, las, palu kecil, cetakan lilin, dan beberapa botol berisi larutan pembersih logam.
Kursi lipat besi jadi singgasananya seharian. Tapi dari tempat sederhana inilah dia menekuni pekerjaan yang kini mampu menghidupi keluarga.
Dan siapa sangka, omzetnya bisa dua igvit atau belasan juta rupiah per bulan.
Sejak pertama kali memulai usaha di Pasar Jongke. Workshop-nya tak pernah sepi. Pelanggan datang dari berbagai daerah, mulai dari Solo, Karanganyar, Sragen, hingga luar Jawa.
“Banyak juga pelanggan yang mengirim batu akik lewat paket. Minta dipasangkan batunya dengan cincin perak. Pesanan kadang sampai antre sebulan. Jadi kalau ada yang mau cepat, ya harus bersabar,” imbuhnya.
Awalnya, Sandy hanya mengandalkan promosi dari mulut ke mulut melalui komunitas pecinta batu akik. Alhasil sesama pehobi akik mulai memesan cincin di lapaknya. Dari satu pelanggan, informasi menyebar ke pelanggan lain.
Sandy juga mencoba memanfaatkan media sosial. Foto-foto cincin hasil kreasinya diunggah di Facebook dan Instagram. Sehingga menarik banyak peminat. “Dulu sehari paling dapat dua atau tiga pesanan. Sekarang bisa enam sampai sepuluh pesanan,” ujarnya.
Harga yang dipatok bervariasi. Mulai dari Rp 350 ribu-Rp 1,5 juta per cincin, tergantung berat dan tingkat kerumitan ukiran.
“Dalam sehari dia bisa menggarap hingga 10 cincin. Laba bersih minimal Rp 400 ribu sehari. Itu bisa lebih besar jika orderan sedang ramai,” ujarnya.
Harus diakui, jumlah perajin perhiasan perak ukir yang benar-benar bisa menempa dari nol di Kota Bengawan masih sangat sedikit.
“Kalau dihitung-hitung mungkin nggak sampai sepuluh orang. Jadi persaingan hampir nggak ada,” bebernya.
Kondisi ini membuat Sandy leluasa menjaga kualitas dan harga.
“Kalau dikerjakan dengan telaten, pelanggan nggak akan ke mana-mana. Bahkan ada yang sudah jadi pelanggan tetap bertahun-tahun,” jelasnya.
Di mata Sandy, menjadi perajin perhiasan bukan sekadar mencari uang. Dia menemukan kepuasan saat melihat pelanggan tersenyum dengan hasil karyanya.
“Ada yang pesan untuk hadiah ulang tahun dan pernikahan. Ada juga yang cuma ingin mengoleksi. Kalau mereka puas, rasanya lebih dari sekadar uang,” ujarnya.
Mimpinya ke depan, Sandy ingin memiliki bengkel yang lebih besar, ditunjang dengan peralatan modern. Namun, dia bertekad mempertahankan sentuhan tangan alias handmade yang membuat setiap karyanya punya nilai unik.
“Mesin bisa membantu, tapi rasa dan detail itu beda kalau dibuat tangan,” tegasnya.
Di tengah perbincangan, datang seorang pelanggan dengan membawa sebongkah batu akik berwarna biru kehijauan.
Setelah berbincang sebentar, Sandy lalu mengukur, mencatat, dan mulai menyiapkan cetakan. Palu kembali beradu dengan logam, menghasilkan denting yang memenuhi los.
Di antara keramaian pedagang sayur, penjual pakaian bekas, dan kios onderdil, Sandy terus mengetuk masa depannya.
Dari potongan perak kecil, dia menempa bukan hanya cincin, tapi juga nasib keluarganya.
“Kalau dikerjakan dengan hati, hasilnya yang akan berbicara,” ujarnya optimistis. (atn/fer)
Editor : Niko auglandy