RADARSOLO.COM – Transformasi digital kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Di tengah derasnya arus perubahan zaman dan kompetisi global, pelaku usaha dituntut untuk beradaptasi agar mampu menjaga daya saing dan profesionalitas bisnis.
Hal itu mengemuka dalam seminar bertajuk “Transformasi Bisnis Menjaga Daya Saing Menuju Keberlanjutan & Profesionalitas Bisnis” yang digelar oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Solo, Kamis (13/11/2025).
Kegiatan ini menjadi ajang pembuka wawasan bagi para pelaku usaha tentang pentingnya digitalisasi dalam sistem pengelolaan bisnis.
Wakil Sekretaris Apindo Solo Sri Saptono Basuki menegaskan, transformasi digital bukan hanya untuk efisiensi, tetapi juga bagian penting dalam membangun profesionalitas dan keberlanjutan bisnis.
“Ketika pasar sudah menjadi borderless, maka buyer mengontrol lewat akuntabilitas. Inilah yang kami bicarakan mengenai profesional bisnis. Jika pasar bebas ASEAN, DEFA terjadi, sementara kita belum melek sistem dan teknologi, tentu akan tertinggal,” jelas Basuki.
Dia menyoroti bahwa masih banyak industri di Indonesia yang tertinggal dalam pemanfaatan teknologi. Padahal, negara seperti Vietnam dan Bangladesh mampu menembus pasar bebas karena unggul dalam keterampilan dan digitalisasi.
“Lihat Bangladesh dan Vietnam, mereka bisa menembus pasar bebas dengan pemanfaatan teknologi. Jadi kenapa kita tidak ke arah sana? Industri di Solo ini sudah cukup berdarah-darah, perlu pemanfaatan teknologi agar bisa bersaing,” tegasnya.
Basuki menambahkan, transformasi digital bukan hanya untuk perusahaan besar, tapi juga pelaku UMKM. Dengan sistem kerja yang terstruktur dan berbasis teknologi, efisiensi serta produktivitas bisa meningkat signifikan.
“Kita bicara daya saing dan keberlanjutan profesionalitas bisnis. Pekerjaan yang semula butuh lima jam bisa dipangkas jadi tiga jam, dua jam sisanya bisa untuk aktivitas yang lebih produktif,” paparnya.
Apindo Solo, lanjut Basuki, berkomitmen membangun ekosistem bisnis yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Ia menegaskan bahwa teknologi bukan untuk menggantikan manusia, melainkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan nilai tambah.
“Kami ingin membangun komunikasi bahwa ada platform teknologi yang bisa dipakai di berbagai skala bisnis. Karena itu, Apindo Solo menggandeng JPayroll yang sudah berpengalaman,” imbuhnya.
Dalam seminar tersebut, Apindo Solo bekerja sama dengan JPayroll dan Zemangat untuk memberikan edukasi digital kepada lebih dari 80 pelaku usaha se-Solo Raya. Bahkan, peserta dari luar daerah turut hadir karena tingginya minat terhadap tema transformasi digital ini.
CEO JPayroll, Andry Kosasih, memaparkan bahwa sistem JPayroll terdiri dari tiga modul utama: absensi, manajemen karyawan, serta penggajian dan perpajakan. Semua proses saling terintegrasi dan otomatis.
“Mulai dari absensi, lembur, cuti, hingga penghitungan insentif dan pajak dilakukan otomatis. Data dari fingerprint atau mobile app langsung diproses sistem. Tujuannya menyederhanakan manajemen SDM dan memperkuat pengambilan keputusan berbasis data,” terang Andry.
Dengan langkah ini, Apindo Solo berharap dunia usaha di Kota Bengawan semakin adaptif dan siap menghadapi era digital secara profesional dan berkelanjutan. (nis/nik)
Editor : Niko auglandy