RADARSOLO.COM – Minat warga Kota Solo dan sekitarnya terhadap komoditas ikan cukup rendah. Buktinya, penjualan ikan segar di Pasar Gede Solo lesu darah. Pedagang berharap ada upaya dari pemerintah untuk mendongkrak angka konsumsi ikan (AKI).
Lesunya penjualan ikan segar diakui pedagang Pasar Gede Agus Priyanto. Menurutnya, pembeli yang datang mayoritas pelanggan tetap.
“Jarang ada yang beli. Kalau sudah lewat pukul 09.00, pasar sudah sepi. Kalau pelanggan nggak datang ya pasti sepi,” keluh Agus, Kamis (15/1).
Soal harga, para pedagang mengaku relatif stabil. Ikan nila di kisaran Rp 35 ribu per kg, dan gurame Rp 40 ribu per kg.
Agus membandingkan kondisi saat ini dengan 2023 lalu, ketika penjualan ikan segar cukup tinggi. Saat itu, Agus mampu menjual ikan segar hingga 3 kuintal per hari. Kini, ia hanya membawa 80 kilogram (kg) per hari. Itu pun hanya terjual separonya.
Agus menyoroti kebijakan penyerapan ikan yang dinilai kurang berpihak ke pedagang kecil. “Kalau beli dari pedagang kecil seperti kami, pasti nggak akan sepi. Tapi sekarang banyak yang ambil langsung dari petani,” imbuhnya.
Keluhan juga disampaikan pedagang ikan asal Kartasura, Sukoharjo, Yunifar. Ia mengaku mengambil ikan dari Semarang, karena harganya relatif murah dibanding Solo.
“Kalau ambil dari Solo, harganya sama dengan di pasaran. Jadi nggak dapat untung. Makanya ambil langsung dari Semarang,” ujarnya.
Sementara itu, kondisi di lapangan berbanding terbalik dengan data yang dirilis Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Dalam rilis terbarunya, KKP mencatat AKI masyarakat Indonesia pada 2025 mencapai 26,08 kg per kapita. Namun, data tersebut tidak mencerminkan penjualan di pasar tradisional, khususnya di Solo dan sekitarnya. (alf)
Editor : fery ardi susanto