Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan Features Kesehatan

Batik Abstrak di Gang Sempit Kampung Laweyan Solo Sukses Tembus Pasar Mancanegara

Arief Budiman • Kamis, 22 Januari 2026 | 20:02 WIB

 

HANDMADE: Batik buatan salah satu pengrajin di Kampung Laweyan dengan berbagai bentuk.   
HANDMADE: Batik buatan salah satu pengrajin di Kampung Laweyan dengan berbagai bentuk.  

RADARSOLO.COM - Di balik gang-gang sempit yang menyimpan jejak sejarah Laweyan, Solo, tersembunyi sebuah ruang kreatif penuh warna. Dari rumah sederhana itulah Yatmi menekuni batik abstrak—sebuah karya yang lahir dari ketekunan tangan dan keberanian bermain warna.

Berbeda dengan batik pada umumnya, batik abstrak yang digarap Bu Yatmi tidak diawali dengan sketsa. Kain putih langsung menjadi kanvas bebas, tempat imajinasi mengalir melalui canting. “Prosesnya dari kain terus dicanting. Dicanting, dibikin pola, jadi enggak pakai digambar,” ujar Yatmi kepada Jawa Pos Radar Solo.

Baca Juga: Bapenda Kota Surakarta Gelar DKT dan Peluncuran SPPT PBB-P2 2026, Bapenda Optimistis Genjot PAD

Ia menjelaskan, batik abstrak lebih menonjolkan permainan warna ketimbang motif pakem. Pewarna yang digunakan pun khusus, yakni remasol, yang dikenal mampu menghasilkan warna-warna tajam dan hidup. Proses pembuatannya pun berlapis dan membutuhkan kesabaran tinggi.

“Terus dicanting, habis dicanting diwarna, terus nanti dicanting lagi, diwarna lagi,” tuturnya.

Kerja keras itu berbuah manis. Batik abstrak karya Bu Yatmi telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri. Papua, Kalimantan, Jepang, dan Malaysia menjadi sebagian tujuan kain-kain penuh ekspresi tersebut.

Dari segi harga, batik buatannya tergolong variatif dan masih terjangkau. Batik cap dibanderol mulai Rp 200 ribu untuk ukuran dua meter. Sementara batik tulis full canting bisa mencapai Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu, tergantung tingkat kerumitan.

Namun, perjalanan produksi tidak selalu mulus. Musim hujan menjadi tantangan tersendiri bagi Yatmi. Proses pengeringan kain kerap memakan waktu lebih lama, bahkan memaksanya menghentikan produksi sementara.

“Kalau hujan lama keringnya. Jadi nanti kalau yang dijemur sudah habis, berhenti dulu nunggu kering,” katanya.

Meski demikian, semangat Yatmi tak pernah surut. Dengan ketelatenan dan dedikasi, ia terus menjaga denyut batik Laweyan lewat sentuhan abstrak yang khas—membuktikan bahwa dari gang sempit pun, karya besar bisa lahir dan melanglang hingga mancanegara. (rif/nik)

Editor : Niko auglandy
#karya seni #laweyan #batik