Nasional Sepak Bola Solo Karanganyar Klaten Sragen Boyolali Sukoharjo Wonogiri Entertainment Ekonomi Sport Opini Tekno&Oto Wisata&Kuliner Pendidikan

Cara Cerdas Anak Muda Hadapi Badai Ekonomi Global, Pakar Ekonomi: Don't Put Your Eggs in One

Kabun Triyatno • Senin, 26 Januari 2026 | 18:35 WIB
AI Generated/ChatGPT
AI Generated/ChatGPT

RADARSOLO.COM – Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global, generasi muda kini dituntut untuk lebih dari sekadar melek finansial. Mereka didorong untuk menjadi investor tangguh yang paham strategi. Namun, Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Anton Agus Setyawan memberikan peringatan keras. Investasi tanpa pemahaman risiko adalah resep menuju kebangkrutan.

Dalam pandangannya, meski anak muda saat ini memiliki insting tajam dan akses informasi kilat, mereka sering kali terjebak dalam euforia satu instrumen saja. Anton menekankan prinsip emas yang tak lekang oleh zaman yaitu diversifikasi portofolio.

"Rumusnya sederhana tapi fatal jika diabaikan: don't put your eggs in one basket. Jangan taruh semua 'telur' modal Anda dalam satu keranjang yang sama. Portofolio harus disebar. Tujuannya jelas, jika satu instrumen tumbang, aset di tempat lain masih berdiri tegak dan tetap memberi profit," tegas Anton, Minggu kemarin (25/1).

Anton menyarankan anak muda untuk memiliki manajemen pos keuangan yang tegas. Untuk target jangka panjang, ia merekomendasikan instrumen konservatif yang stabil, seperti Surat Berharga Negara (SBN) atau obligasi.

Sementara bagi mereka yang memburu pertumbuhan aset cepat melalui saham atau kripto, Anton memberikan lampu kuning. "Gunakan porsi kecil dari 'uang jajan' untuk instrumen high risk. Ingat, ini uang yang Anda siap jika harus hilang. Jangan sekali-kali menyentuh uang kebutuhan pokok untuk spekulasi," imbuhnya.

Ekonom UMS ini juga menyoroti fenomena maraknya aplikasi investasi. Ia mengapresiasi keberanian anak muda yang mulai belajar trading, asalkan tetap di bawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Baginya, kerugian di masa awal adalah "biaya sekolah" untuk membentuk mental investor.

"Investasi itu harus siap rugi. Kalau uang investasi amblas lalu sambat (mengeluh), berarti Anda belum siap secara mental. Investor muda yang pintar tahu mana porsi untuk membangun aset dan mana porsi untuk 'bermain' mencari tambahan uang saku," tambahnya.

Anton mengingatkan bahwa kemampuan analisis fundamental dan teknikal adalah senjata wajib sebelum terjun ke pasar modal. Sikap rasional harus dikedepankan agar tidak tergiur tawaran keuntungan selangit dari aplikasi investasi bodong.

"Pilih yang sudah legal, terdaftar di OJK dan Bapepam. Di era yang semakin uncertain (tidak pasti) ini, memiliki portofolio investasi yang sehat adalah penyelamat hidup selain pekerjaan utama," tuturnya. (bun)

 

Editor : Kabun Triyatno
#anak muda #Trading #manajemen #ekonomi global #investor #keuangan #biaya sekolah